Cerita Rocky Gerung Gagal Jadi Fisikawan karena Telat Bangun
logo

5 Februari 2019

Cerita Rocky Gerung Gagal Jadi Fisikawan karena Telat Bangun

Cerita Rocky Gerung Gagal Jadi Fisikawan karena Telat Bangun


GELORA.CO - Rocky Gerung barangkali tak akan tersandung kasus ‘Kitab Suci adalah Fiksi’ jika dia bangun pagi pada waktu itu. Sekitar tahun ‘70-an, Rocky membayangkan menjadi seorang fisikawan. Berkutat pada hal-hal rumit demi menjelaskan rahasia semesta.

“Dulu saya mau masuk ITB jurusan fisika, fisika murni, tapi telat bangun. Sampai Senayan sudah tutup (ujiannya),” kata Rocky saat bercerita tentang masa lalunya ke kumparan di kantor kumparan, Sabtu (2/2) sore. 

Gagal masuk ITB, Rocky mencoba peruntungan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Namun, meski diterima, Rocky malah banting setir ke Fakultas Teknik Universitas Trisakti. Belum ada tanda-tanda mendalami filsafat.

“Waktu itu teknik elektronya bahkan kita bilang labih baik daripada UI. Pengajarnya dari ITB segala macam. Laboratorium tersedia, jadi saya belajar di situ,” kenangnya.

Rocky menjelaskan, teknik elektro di Trisakti bukan satu-satunya yang dia geluti.  Dalam waktu yang sama, pria kelahiran Manado itu juga belajar Ilmu Hubungan Internasional FIS UI (sekarang FISIP UI). Beberapa waktu kemudian, dia pindah ke Fakultas Hukum, hingga akhirnya terdampar dan lulus di Filsafat FS UI (sekarang FIB UI) pada 1986.

Petualangan Rocky di UI yang empat kali ganti jurusan jelas bukan tanpa alasan. Menurut dia, seluruh disiplin ilmu yang pernah dicicipinya terlalu mudah untuk dipelajari. Hanya filsafat yang mampu menantangnya untuk berpikir lebih dalam. 

“Karena (jurusan yang lain) tidak ada spekulasi yang membutuhkan abstraksi, membutuhkan penundaan argumen, membutuhkan deepening, pendalaman kontradiksi selain philosophy. Saya lebih tertarik ke philosophy. Lalu saya  mengajar di situ,” terang Rocky. 

Dari ragam posisi intelektual di filsafat, Rocky sangat berminat pada bacaan-bacaan kiri. Namun, ini bukan tentang bagaimana membangkitkan komunisme yang telah runtuh di Uni Soviet. Yang Rocky pelajari, bahkan menjadi skripsinya, adalah Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Sebuah posisi intelektual yang kritis terhadap kekuasaan (establishment), bahkan curiga terhadap komunis itu sendiri.

Dalam mazhab itu, Rocky menaruh hormat pada seorang filsuf Jerman bernama Jürgen Habermas. Seorang filsuf yang berhasil memecahkan kebuntuan dari sederet filsuf Mazhab Frankfurt generasi awal. Mulai dari Max Horkheimer, Theodor Adorno, hingga Herbert Marcuse.  

Singkatnya, kebuntuan dari Mazhab Fraknfurt terjadi lantaran keyakinan bahwa irasionalitas,  yang kandung dibungkus dengan selubung ideologis, telah melenyapkan kemampuan manusia dalam berpikir jernih. Sementara melalui Habermas, kebuntuan itu dipecahkan dengan cara kembali pada hal yang sangat mendasar, yakni praxis komunikasi. 

Habermas, begitu pula Rocky, percaya bahwa perubahan sosial dapat diciptakan melalui deliberasi. Dalam arti persoalan umat manusia kian dapat diselesaikan melalui kehangatan berwarga negara. Yakni melalui adu argumentasi, bukan menggulung lengan baju dan mencanangkan revolusi. 

“Cara berpikir Habermas sebetulnya juga saya manfaatkan sampai sekarang dalam analisis sosial politik,” terang Rocky. 

Saat ditanya apakah ini berarti posisi intelektual Rocky berada di kiri, ia menjawab diplomatis. Menurut Rocky, ada ketidakcukupan pemahaman orang terhadap definisi kiri dan kanan. Hal itu lantaran ada perbedaan semangat dalam memahami keduanya. 

Di Amerika Serikat misalnya, kiri berarti liberalisme. Sedangkan kanan berarti konservatisme. Sementara di Eropa, kiri adalah sosialisme. Sementara yang kanan justru liberalisme. 

“Jadi kalau ditanya apa posisi ideologinya, saya bilang critical point of view aja terhadap semua soal itu. (Saya) cenderung liberal dalam pengertian kiri bukan Eropa. Karena untuk kritis orang mesti di kiri,” tegas dia. 

Konsekuensinya, apa yang dibelanya selama ini adalah kebebasan berpendapat dan berbicara di muka umum. Untuk itu, Rocky menegaskan, dia bukanlah pro Prabowo atau bahkan pro terhadap gerakan 212. Dengan tegas, dia menampik sejumlah tuduhan yang menyebutnya telah ‘hijrah’ mengamini agenda Islam kanan. 

“Bahwa saya jadi kanan ya enggak. Saya membela 212 untuk mengucapkan pendapat,” katanya. 

Rocky menambahkan, terkait reuni 212, yang dia bela adalah hak memperoleh informasi atas acara itu. Alasannya, reuni 212 di Monas merupakan peristiwa besar. Namun, dia mengaku hannya meihatnya di berita-berita internasional.

“Kenapa negara menutup informasi tentang 212? Jadi saya membela hak saya untuk memperoleh info mengenai 212. Kan itu masalahnya,” imbuh dia.

Kekeliruan orang dalam memahami sikap politiknya itu yang kadang kala membuat Rocky geram. Di Twitter, dia menyebut orang yang kerap berseberangan dengannya sebagai dungu. Istilah itu juga diucapnya untuk mengomentari pemerintah yang menurut dia seringkali kontraproduktif. 

Sepanjang 31 Januari 2018 hingga 27 Januari 2019, kumparan mencatat adanya 2.644 tweets yang ia unggah. Dari cuitan sebanyak itu, kata ‘dungu’ ditulis sebanyak 262 kali. Kata itu adalah yang paling sering diucapkan Rocky. 

“Kalau waras pasti saya enggak akan pakai kata dungu. Bukan enggak ada (istilah lain). Namun, sulit untuk menerangkan itu kalau setiap kali yang dipamerkan ke publik adalah inkonsistensi di dalam reasoning. Mungkin di belakang layar dia konsisten dalam reasoning-nya. Namun, ketika tampil sebagai pejabat publik gugup dan gagap,” uja Rocky.

[kum]

Loading...

Komentar Netizen

loading...