Rocky Gerung: Saya tak Membenci Pemerintah, tapi Membenci Cara Pemerintah Berbohong

Rocky Gerung: Saya tak Membenci Pemerintah, tapi Membenci Cara Pemerintah Berbohong

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Filsuf yang juga pengamat politik Rocky Gerung mengaku tidak membenci pemerintah dan percaya bahwa politik Indonesia akan tumbuh kembali di dalam kondisi akal sehat bila kampus tetap mempertahankan kritisisme.

"Jadi, pastikan bahwa pikiran kita di kampus ini, kritik kita di kampus ini turun sampai di pos kamling di desa-desa kalian. Dengan cara itu, kita mengawal perubahan. Saya tidak membenci pemerintah, saya membenci cara pemerintah berbohong," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (11/1/2019).

Rocky mengatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Refleksi Awal Tahun "Nalar Demokrasi Kita: Antara Akal Sehat dan Akal Miring" yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik (PSDKP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) di Aula A.K. Anshori, Gedung Rektorat UMP.

Rocky Gerung percaya dari ruang-ruang kelas Muhammadiyah akan tumbuh IQ nasional karena berdasarkan informasi yang diterimanya, hingga saat ini telah ada 178 perguruan tinggi Muhammadiyah.

Jika dari satu kampus menghasilkan sekitar 3.000 sampai 4.000 mahasiswa, dalam 1 tahun akan ada 700.000-an mahasiswa dari perguruan tinggi Muhammadiyah.

Dengan demikian, kata dia, dalam 5 tahun akan ada sekitar 3,5 juta pikiran bermutu dari Muhammadiyah.

"Saya percaya bahwa Indonesia akan diterangi ulang oleh demokrasi akal sehat bila matahari Muhammadiyah memberi terang 24 jam di Indonesia," katanya.

Rocky mengajak mahasiswa UMP untuk mengajukan semacam keyakinan bahwa harus terjadi perubahan supaya bangsa Indonesia bisa tegak kembali.

Menurut dia, saat sekarang bangsa Indonesia dijebakkan dalam ketegangan terus-menerus karena ada kecemasan pada kekuasaan.

Untuk mengubah kekuasaan, lanjut dia, tidak sekadar melalui argumentasi karena argumentasi berfungsi untuk mengritik kekuasaan.

Akan tetapi, mengubah kekuasaan, kata dia, memerlukan suara dan kotak suara.

"Saya percaya bahwa politik Indonesia akan tumbuh kembali di dalam kondisi akal sehat bila kampus tetap mempertahankan kritisisme," katanya. [akr]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita