Erick dan Luhut Kurang Realistik, Ma'ruf Amin Tak Bisa Dipaksa Blusukan seperti Jokowi
logo

9 Desember 2018

Erick dan Luhut Kurang Realistik, Ma'ruf Amin Tak Bisa Dipaksa Blusukan seperti Jokowi

Erick dan Luhut Kurang Realistik, Ma'ruf Amin Tak Bisa Dipaksa Blusukan seperti Jokowi

GELORA.CO - Sejak awal  Ma'ruf Amin bukan cawapres yang direncanakan mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019.

Ma'ruf dipilih karena dianggap akan mampu menggenjot elektabilitas Jokowi, setidaknya dari kelompok umat Islam, khususnya lagi untuk konsolidasi warga Nahdlatul Ulama (NU). 

"Tetapi ternyata asumsi itu tampaknya keliru, dalam pengertian tidak sesuai yang diharapkan," ujar pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (9/12). 

Said mencontohkan, Reuni Akbar Mujahid 212 pada Minggu (2/12) lalu yang ditolak Mar'uf penyelenggaraannya. Harapan peserta yang hadir berkurang justru membesar, dibandingkan Aksi Bela Islam pada 2016 silam.  

Tak hanya itu, menurut Said, harapan suara NU solid dengan hadirnya Ma'ruf Amin sebagai pendamping Jokowi jauh dari kenyataan. Sebab merujuk Pilpres 2014 di mana Jokowi juga berhadapan dengan Prabowo Subianto, suara NU terpecah.

"Faktanya justru cucu-cucu pendiri NU bergabung ke Prabowo," sambungnya. 

Ini berarti untuk sementara waktu, simpul Said, nilai jual Ma'ruf tidak sesuai harapan. Ia menduga hal inilah yang mendasari pernyataan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bahwa cawapres nomor urut 01 itu belum turun kampanye. 

"Apakah kondisi kesehatan Pak Ma'ruf mendukung keinginan dari Pak Luhut dan Pak Erick karena di kamar mandi saja sudah terpeleset. Kalau yang diminta intensif dan blusukan, ini kurang realistis," kata Said. 

Ma'ruf tidak bisa dipaksa mengikuti model kampanye blusukan seperti Jokowi. Ini sama saja memaksakan keterbatasan Ma'ruf, sedangkan mereka sudah tahu. 

Ia cenderung menangkap pernyataan Luhut dan Erick itu tidak terlepas dari tumpah ruahnya peserta Reuni 212 lalu. 

"Ada korelasinya. Kenapa? karena kiai Ma'ruf diharapkan bisa mengambil suara umat Islam yang menjadi peserta 212. Rupa-rupanya massa reuni lebih besar, muncul pernyataan ini janganjangan- kiai Ma'ruf belum menyapa lebih banyak umat, ini belum kampanye," tengarainya.

Namun ia sangsi Ma'ruf bisa mengambil hati peserta dan pendukung Reuni 212 jika Januari nanti menyapa lebih banyak umat Islam. 

"Dugaan saya akan sangat kecil peluang Ma'ruf karena aksi 212 mungkin nanti ada lagi lanjutannya, sudah dalam posisi politik bagi dirinya sendiri," terangnya. 

Menurut dia, kelompok atau massa umat 212 yang ingin disasar lewat Ma'ruf akan tidak mudah dipengaruhi. [rmol]
Loading...
loading...