Ekonom: Impor Jagung untuk Turunkan Harga Daging Ayam

Ekonom: Impor Jagung untuk Turunkan Harga Daging Ayam

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Pemerintah memutuskan akan mengimpor jagung untuk pakan ternak sebanyak 50.000 hingga 100.000 ton. Jagung ini nantinya ditujukan untuk kebutuhan peternak mandiri.

Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, kebijakan impor ini harus dilakukan karena untuk menurunkan harga daging ayam. Hal ini menurutnya disebabkan oleh biaya pakan yang tinggi.

Seperti diketahui, harga jagung pakan ternak semakin melonjak menjadi Rp5.200 per kg, melampaui harga pokok penjualan (HPP) yang dipatok Rp4.000 per kg.

"Kalau kita melihat harga daging ayam itu kan agak tinggi salah satunya karena biaya pakan agak tinggi kaya jagung itu hal yang krusial. Karena kita bicara mengenai pakan ternak dan supply and demand tidak matching jadi harus ada impor," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Sabtu (3/11/2018).

Kendati demikian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan memperkirakan, produksi jagung pada Juni-September 2018 sebesar 7,18 juta ton pipilan kering (PK). Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton PK yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih.

"Artinya dari hitungan itu saja, kita masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September-Desember. Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung akan tetap aman sampai akhir tahun," kata Direktur Serealia, Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Bambang Sugiharto dikutip dari keterangan resmi.

Namun, menurut Fithra data yang dimiliki Kementan tidak reliable dalam penghitungan pasokan pangan. Padahal, data dari Kementan sangat penting untuk menjadi acuan pemerintah melakukan impor bahan pangan.

"Selain itu data dari Kementan juga tidak reliable. Apalagi perhitungan produksi beras yang direvisi saya rasa ini hal yang sama dengan impor jagung yang saya rasa angkanya over estimated. Jadi ya saya rasa masih harus impor," ucapnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menjelaskan, masalah distribusi menjadi alasan mengapa harga jagung meningkat. Hal ini karena sebaran waktu dan lokasi produksi jagung yang bervariasi, di samping juga pabrikan pakan ternak tidak berada di sentra produksi jagung, sehingga perlu dijembatani antara sentra produksi dengan pengguna agar logistiknya murah. [inews]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita