Eggi Sindir Jokowi Peduli Film Dilan Ketimbang Bendera Tauhid
logo

2 November 2018

Eggi Sindir Jokowi Peduli Film Dilan Ketimbang Bendera Tauhid

Eggi Sindir Jokowi Peduli Film Dilan Ketimbang Bendera Tauhid


GELORA.CO -  Aktivis 212 Eggi Sudjana menyindir Presiden Joko Widodo yang dinilainya lebih mempedulikan Film Dilan 1990 ketimbang menaruh perhatian pada polemik pembakaran bendera bertuliskan tauhid yang terjadi di Garut beberapa waktu lalu.

Hal itu disampaikan Eggi usai bertemu Menko Polhukam Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (2/11).

"Saya kritik langsung dengan Pak Wiranto, kenapa presiden Jokowi tak respon sedikit pun? Gak komen sedikit pun? Soal film Dilan aja komentar. Ini kalimat laillahaillah kok tidak komentar?" Sindir Eggi.

Jokowi diketahui pernah menonton film drama romantis Dilan 1990 bersama putrinya, Kahiyang Ayu dan suami Kahiyang, Bobby Nasution awal tahun lalu.

Eggi meminta agar Jokowi dapat memberi perhatian lebih terkait polemik pembakaran bendera dengan serius. Kalimat tauhid yang tertera dalam bendera dianggap sangat penting bagi umat Islam sampai kapanpun.

"Pintu masuknya orang Islam. Mau mati pun menyebutkan kalimat tauhid ini. Masa Jokowi gak menanggapi," kata dia.

Eggi berharap Wiranto selaku Menkopolhukam dapat menyampaikan deretan tuntutan massa aksi bela tauhid jilid II kepada Jokowi secara langsung.

Ia pun berharap nantinya pemerintah dapat menyatakan secara resmi bahwa bendera yang dibakar oleh Banser adalah bendera tauhid, bukan bendera Ormas HTI.

"Jadi dengan demikian kita percaya dengan Pak Wiranto. Tadi dia juga sudah ngomong mau smpaikan ke pak pesiden keluhan kami ini. Masa harus Presiden Turki yang komentar," ketus Eggi.

Juru Bicara Aksi Bela Tauhid Jilid II, Awit Masyuri sementara itu menuntut Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) untuk meminta maaf kepada umat Islam terkait pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh anggota Banser di Garut.

"PBNU Wajib meminta maaf kepada umat Islam atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh Anggota Banser di Garut," kata Awit.

"Kita turut meminta agar PBNU harus dibersihkan dari Iiberalisme dan aneka paham sesat menyesatkan lainnya karena NU adalah rumah besar Ahlussunnah Wal Jamā'ah," ungkapnya.

Awit mengimbau seluruh masyarakat dapat menghormati simbol-simbol agama agar dapat menjaga kebinekaan dengan baik.

berharap agar umat Islam selalu menjaga persatuan dan tidak mudah diadu domba oleh pihak manapun.

"Selalu menjaga Kebhinekaan sehingga tidak adalagi persekusi atau penolakan terhadap pemuka agama atau aktivis di wilayah NKRI," kata dia.

Aksi Bela Tauhid digelar sebagai bentuk protes pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh Banser NU. GP Ansor menegaskan bendera yang dibakar oleh anggota Banser di Garut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia.

Pembakar bendera telah diamankan polisi dan diproses hukum. Polda Jawa Barat yang menangani kasus telah melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Negeri Garut. Sementara dua ormas Islam terbesar di Indonesia, PBNU dan Muhammadiyah telah mengimbau anggotanya tidak turun ke jalan. [cnn]

Loading...
loading...