Curhat Guru Honorer: Bercerai hingga Nyambi Jadi Ojek Online
logo

3 November 2018

Curhat Guru Honorer: Bercerai hingga Nyambi Jadi Ojek Online

Curhat Guru Honorer: Bercerai hingga Nyambi Jadi Ojek Online


GELORA.CO - J tidak pernah menyangka bahwa dirinya bakal mendidik ketiga anaknya sendiri. Dia harus menjadi bapak sekaligus ibu bagi putra dan putrinya yang masih bersekolah.

Pekerjaan sebagai guru honorer membuat dirinya diragukan oleh istrinya sendiri. Ia tak semata menyalahkan perempuan yang kini sudah bercerai dengannya karena ia dulu pernah berjanji muluk.

"Karena dulu saya menjanjikan 'kamu makmur', tapi ternyata tidak sesuai harapan," kata J saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (2/11).

Guru honorer Kategori 2 (K2) di salah satu SMA Negeri di DKI Jakarta itu mulanya ragu saat diajak berbincang. Namun kemudian ia bersedia menyediakan waktu.

"Barangkali saja buat mewakili perasaan temen-temen saya," kata dia.

Sambil membuang pandangan, ia bercerita tentang kehidupannya sebagai guru honorer yang sudah ia mulai sejak 2002.

"Tahun 2005 ada sistem pemerintah untuk K-2 bagi yang sudah bekerja sekian tahun. Dan saya masuk ke dalamnya," kata guru Sosiologi itu.

J mengaku sudah tahu konsekuensi sejak awal bekerja sebagai guru honorer. Namun ia seakan tak punya pilihan. Harapannya saat itu, ia kelak bisa diangkat jadi pegawai negeri sipil.

Sebagai guru honorer, J mengaku berpenghasilan Rp3,6 juta. Untuk menghidupi seorang istri dan tiga anak di kota besar, uang sebesar itu tentu kurang.

"Gaji segitu mah harus ngencengin ikat pinggang," katanya.

Hubungannya dengan istrinya saat itu makin memburuk. Ia mengakui, masa depannya sebagai guru honorer makin suram.

"Dari situ (hubungan) kami bermasalah," ujarnya.

Tak jauh dari meja kami berbincang saat itu, ada lima orang guru berstatus PNS tengah mengobrol. Seakan iri dengan status mereka, J menyatakan kondisinya dengan lima orang guru tersebut sangat timpang, terutama soal penghasilan.

"Kalau mereka bisa Rp15 jutaan gajinya," katanya.

Dengan upah Rp3,6 juta, J harus menghidupi 3 anaknya. Setiap hari, J harus bolak balik dari kawasan Cilodong, Depok ke kawasan Jakarta Selatan menggunakan sepeda motor. Semangatnya saat ini hanya agar tiga buah hatinya bisa hidup dengan layak dan bisa sekolah setinggi mungkin.

Kalau diberi kesempatan, J mengaku ingin sekali mengikuti tes CPNS. Selama ini, dia bilang, untuk mengikuti CPNS jalur K2 harus memakai kuota. Sementara menunggu kuota, umurnya terus bertambah.

Sebagai guru honorer di kota besar, dari sisi penghasilan J mungkin lebih beruntung.

Guru honorer di Garut, C mengaku penghasilannya jauh di bawah J.

Berbincang melalui sambungan telepon, C blak-blakkan mengaku gajinya hanya Rp250 ribu per bulan.

Jumlah yang sama juga diterima istrinya yang juga honorer.

"Rp250 ribu per bulan. Bersama istri yang honor juga Rp250 ribu jadi total pemasukan tetap sekitar Rp500 ribu per bulan," katanya.

Namun C bersama istrinya mencoba untuk bisa mensyukuri nikmat tersebut.

"Kalau dihitung-hitung enggak logika sih, tapi ada saja berkah," lanjutnya sambil tertawa.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, guru pendikan agama Islam ini mencari penghasila sampingan sebagai pengemudi ojek online.

Bapak dua anak ini ngojek di sela-sela pergi ke kantor dan pulang kantor dengan waktu tempuh masing-masing setengah jam.

"Ya dari situ tambahannya. Kalau tidak dari mana lagi. Gaji saya hanya bergantung kepada BOS (bantuan operasional sekolah) saja," kata C.

Sempat terbesit dipikiran C untuk menjadi PNS di Garut. Namun sama seperti J ia terbentur dengan umur yang sudah berusia 45 tahun.

"Enggak bisa (mendaftar), terakhir ujian K2 kalau enggak salah 2013. Sekarang sudah tidak ada lagi," ujar dia.

Kendati tidak memiliki kesempatan menjadi PNS, C tidak pernah bermaksud untuk mengurangi kualitasnya sebagai guru. Dia sadar bahwa pendidikan anak Indonesia berada ditangannya, meski hanya seorang guru honorer.

"Pendidikan anak-anak harus tetap jadi utama," katanya.

Baik J dan C tidak pernah menyalahkan pemerintah atas hidup yang mereka jalani. Mereka hanya meminta agar pemerintah bisa memfasilitasi jalan keluar yang bisa saja merubah hidup mereka. [cnn]

Loading...
loading...