1 Juta Orang China Pindah ke Rumah Muslim Uighur untuk Jadi Mata-Mata

1 Juta Orang China Pindah ke Rumah Muslim Uighur untuk Jadi Mata-Mata

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -  Lebih dari satu juta orang Han China tanpa diundang pindah ke rumah keluarga Muslim Uighur. Mereka bertugas untuk melaporkan apakah pemilik rumah menjalani keyakinan agama Islam atau tidak patriotik.

Dikirim ke rumah-rumah di Provinsi Xinjiang oleh pemerintah China, antropolog Amerika Serikat (AS) Darren Byler mengatakan mereka ditugaskan untuk mengawasi tanda-tanda keterikatan tuan rumah mereka dengan Islam "ekstrem".

Para informan, yang menyebut diri mereka sebagai "keluarga" dari keluarga yang tinggal bersama mereka, disebut telah menerima instruksi khusus tentang cara membuat mereka lengah.

Sebagai Muslim yang taat akan menolak rokok dan alkohol, tindakan ini dilihat sebagai salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka ekstrem atau tidak.

"Apakah seorang tuan Uighur baru saja menyapa tetangga dalam bahasa Arab dengan kata-kata 'Assalamualaikum?' Itu perlu dimasukkan ke dalam notebook,” kata Byler, dalam penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Asia Society tentang Hubungan AS-China, seperti dilaporkan Independent, Sabtu (24/11/2018).

"Apakah salinan Al Quran ada di rumah? Apakah ada yang salat pada Jumat atau berpuasa saat Ramadhan? Apakah gaun anak perempuan terlalu panjang atau jenggot laki-laki sedikit tidak teratur?” sambungnya.

Menurut Byler, praktek ini telah berlangsung sejak 2017. Mereka yang mengaku sebagai "keluarga" ditugaskan ke rumah-rumah Muslim Uighur dalam serangkaian kunjungan selama sepekan.

Klaim ini tampaknya dikonfirmasi oleh surat kabar resmi Partai Komunis China, People's Daily. Surat kabar itu melaporkan, lebih dari 1,1 juta orang berpasangan dengan 1,69 juta warga etnis minoritas di China pada akhir September tahun ini.

Mereka fokus pada keluarga dari mereka yang ditahan di pusat "pendidikan ulang".

Sebelumnya dilaporkan, sebanyak satu juta etnis Muslim Uighur ditempatkan di pusat "pendidikan ulang", dalam apa yang diklaim China sebagai tindakan keras terhadap ekstremisme agama.

Mereka yang menghabiskan waktu di dalamnya mengaku dipaksa untuk menjalani program indoktrinasi intensif, didesak untuk meninggalkan Islam dan sebagai gantinya memberikan pujian kepada Partai Komunis China.

Seorang mantan narapidana mengklaim para tahanan dipaksa makan daging babi dan minum alkohol.

China juga dikatakan berusaha mencegah orang berpuasa selama Ramadan di Xinjiang tahun lalu.

Menurut Kongres Uighur Dunia (WUC), para pejabat di kawasan itu memerintahkan semua restoran untuk tetap buka dan serangkaian tindakan dilakukan yang tampaknya dirancang untuk mencegah orang-orang merayakan awal bulan suci Ramadhan.

Pihak berwenang China juga dituduh menempatkan anak-anak Uighur dan mereka dari kelompok etnis minoritas lainnya ke panti asuhan yang dikelola negara di wilayah Xinjiang barat, meski orangtua mereka masih hidup.

Sebab sekitar satu juta orang dewasa di keluarga mereka dikirim ke kamp interniran.

Dilxat Raxit, dari Kongres Uighur Dunia yang diasingkan, juga mengklaim para pejabat di Xinjiang memperingatkan bahwa mereka harus menyerahkan benda-benda keagamaan seperti Al Quran atau menghadapi "hukuman keras". [in]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita