PSK di Tondo Masih Tetap Dicari Usai Gempa dan Tsunami
logo

9 Oktober 2018

PSK di Tondo Masih Tetap Dicari Usai Gempa dan Tsunami

PSK di Tondo Masih Tetap Dicari Usai Gempa dan Tsunami


GELORA.CO - Pekerja seks komersial atau PSK di Tondo, Palu Sulawesi Tengah hanya istirahat sesaat, menunggu kafe, tempat karaoke, dan kamar tempat mereka bekerja direnovasi usai gempa dan tsunami melanda.

Tak mudah masuk ke kawasan Tondo Kiri, Palu. Penjagaan ketat di gerbang masuk. Palang dipasang di situ. Ketatnya penjagaan juga bisa disaksikan di sebelah utara jalan. Sebuah pos pengamanan, berukuran besar dibangun di situ. Mirip rumah atau warung makan. Sangat luas untuk sekadar pos keamanan.

Setelah meminta izin kepada sejumlah orang yang berdiri di sana, awak Fajar berhasil melalui palang tanpa membayar alias gratis. Palang dibuka setengah. Membentuk sudut 30 derajat. Plus mendapat "pengawalan" dari seorang rekan dengan tato di lengan itu, penjaga sepertinya sungkan untuk tak membiarkan kru Fajar masuk.

Pada kondisi normal, setiap pengunjung yang datang, diwajibkan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp 5.000 untuk sepeda motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Retribusi dibayar di pos itu. Namun, bagi pelanggan yang telah dikenal baik, mereka bahkan bisa melenggang masuk tanpa membayar sepeser pun. Termasuk bagi "anggota".

Lazimnya kompleks perumahan, palang gerbang masuk itu menggunakan cor sebagai pembebanan di bagian selatan. Hanya menggunakan tali sebagai alat katrol, membuka atau menutup gerbang. "Tidak boleh masuk kalau bukan orang di dalam," sebut seorang pria yang akrab disapa Daeng di kawasan Tondo Kiri itu, saat Fajar berkunjung Minggu (7/10) lalu.

Daeng merupakan salah seorang pemilik usaha di dalam kompleks ini. Situasi pascagempa membuatnya harus selektif membiarkan orang masuk. Alasannya, kini banyak pencuri. Barang-barang penghuni Tondo banyak yang dicuri.

Dari Daeng inilah Fajar mengetahui bahwa di Tondo Kiri, sebagai sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Sulawesi, ada beberapa orang Sulsel yang menggerakkan aktivitas dunia malam itu. Jadi germo, menyediakan layanan tambahan bagi tetamu setelah karaoke dan minum alkohol.

Dia memiliki beberapa wanita. Disebutnya sebagai "karyawati". Masuk kerja malam hari. Sampai dini hari. Tak tinggal di rumah multifungsinya: rumah, karaoke, bar, dan wisma.

Daeng menjamin, "karyawati" di Tondo Kiri steril alias sehat untuk di-booking. Kesehatan mereka dijaga. Dua kali sebulan, tim kesehatan datang memeriksa dan mengecek kesehatan mereka. Itu dilakukan rutin. "Terjamin di sini, Pak," imbuh Daeng.

Soal tarif, seorang sumber yang mengantar kami, Edy (30), menyebut, semuanya tergantung pembicaraan. Rata-rata tamu yang datang, memilih menenggak miras terlebih dahulu. Aneka merek alkohol disediakan. Kebanyakan bir.

Soal sumber bir ini, Daeng menyebut, mereka punya celah untuk memasukkannya. Karena statusnya tak diakui sebagai kawasan prostitusi, pemilik usaha hiburan, banyak main kucing-kucingan memasok alkohol ke tempatnya. "Di sini biasanya minum dulu. Kalau mau main, masuk ke dalam kamar. Kadang juga ada yang bawa sendiri dari luar," beber pria berambut pendek itu.

Sangat mudah mendapatkan layanan tidur bersama karyawati di Tondo Kiri ini. Cukup memesan bir, negosiasi harga, lalu masuk ke dalam bilik yang telah disediakan.

Hanya saja, usai gempa dan tsunami, aktivitas itu dihentikan sementara. Sebagian blok prostitusi memang tak terdampak parah. Hanya yang tepat menghadap bibir pantai. Yang lainnya hanya retak atau tertimpa material bawaan tsunami.

Meski jejak gempa dan tsunami belum hilang, tapi 'pelanggan' sudah merindukan layanan PSK di Tondo. "Baru selesai tsunami, ada saja yang datang cari. Seperti tadi malam," beber Amir, salah seorang muncikari asal Makassar yang kini kehilangan pendapatan setelah tsunami menghantam tempat karaokenya.

Ada beberapa karyawati dia pelihara. Tak tinggal di Tondo Kiri. Indekos di luar. Hanya datang saat hendak melayani tamu. Namun, kini semuanya harus dimulai dari nol. Bangunan yang rata dengan tanah, memaksanya harus membangun ulang. [jpc]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...