Perangi L68T, Wali Kota Payakumbuh Angkat Ustad Jadi Kasatpol PP
logo

22 Oktober 2018

Perangi L68T, Wali Kota Payakumbuh Angkat Ustad Jadi Kasatpol PP

Perangi L68T, Wali Kota Payakumbuh Angkat Ustad Jadi Kasatpol PP


GELORA.CO -  Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) makin menjadi pembicaraan publik Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar). Kondisi itu sangat kontras dengan daerah yang selama ini dikenal dengan falsafahnya, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Falsafah adat itu terbukti dengan banyaknya generasi muda Payakumbuh menjadi yang hafiz Alquran dan kehadiran sekolah agama berkonsep boarding school.

Wali Kota Payakumbuh Wali Kota Riza Falepi menuturkan, jika saat ini masih muncul transgender di Payakumbuh, pihaknya selalu bertindak tegas. Upayanya tetap melakukan razia.

"Kami juga berharap ada regulasi yang lebih jelas dan tegas dari pemerintah pusat terkait penanganan LGBT. Karena kalau payung hukumnya tidak kuat di pusat, kami di daerah jadi serba salah," ujar Riza seperti dari Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Senin (22/10).

Saat ini langkah awal yang dilakukan Riza yakni dengan mengganti kepala Satpol PP setempat dengan sosok yang lebih tegas. "Makanya kami ganti Kasatpol PP dengan berlatar ustad (sdr Devitra) dan sudah sering merazia," imbuhnya.

Mantan anggota DPD itu menegaskan, Pemko Payakumbuh memiliki komitmen menolak LGBT. "Kami akan menyikapi persoalan ini dengan sebaik-baiknya. Dalam waktu dekat kami akan menghimpun seluruh elemen masyarakat Payakumbuh untuk membuat aksi nyata mencegah berkembangnya LGBT di Payakumbuh, salah satunya melalui Deklarasi Bersama Anti-LGBT, InsyaaAllah dalam waktu dekat," ungkap Riza.

Sikap Riza ini mendapat dukungan dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Payakumbuh Buya Asril Syamsu. Dia mennyatakan, aktivitas LGBT sangat bertentangan dengan adat istiadat Minangkabau.

"Kami sangat mendukung langkah Wali Kota Payakumbuh tersebut. Tentu selaku organisasi agama kami akan berperan di bidang kami. Utamanya memberi penyadaran kepada umat melalui mimbar-mimbar pengajian para mubaligh Muhammadiyah," ujar Buya Asril.

Senada dengan Penasihat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Payakumbuh Henny Yusnita juga mengatakan, LGBT adalah suatu masalah sosial yang semakin hari semakin banyak dan mengancam eksistensi generasi muda Indonesia.

"Kita sangat khawatir anak-anak muda kita terjangkit berbagai macam penyakit seperti HIV AIDS karena terjerumus LGBT. Kita harus tanggulangi masalah ini secara persuasif, tingkatkan pengawasan kita dan jangan memberikan ruang gerak pelaku LGBT untuk memperlihatkan eksistensinya dilingkungan kita masing-masing," ujar Henny. [jpc]

Loading...
loading...