Mukjizat, Korban Gempa dan Likuifaksi Sigi Dibungkus Kantong Mayat Hidup Lagi
logo

9 Oktober 2018

Mukjizat, Korban Gempa dan Likuifaksi Sigi Dibungkus Kantong Mayat Hidup Lagi

Mukjizat, Korban Gempa dan Likuifaksi Sigi Dibungkus Kantong Mayat Hidup Lagi


GELORA.CO - Gempa Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah yang disertai tsunami masih meninggalkan berbagai macam cerita dan kisah.

Salah satunya Hamka Daud (43), warga keluarahan Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi.

Hamka adalah salah satu korban yang mendapat mukjizat dan lolos dari maut. Ia lolos dari likuifaksi di kampung halamannya itu.

Untuk diketahui, Jono Oge adalah salah satu daerah yang mengalami likuifaksi selain Petobo dan Sidera.

Hamka yang sempat ‘ditelan’ lumpur itu, akhirnya selamat.

Ditemui Pojoksatu.id, Selasa (9/10/2018), Hamka menuturkan kisah getir yang dialami ketika bencana likuifaksi melanda.

Saat bencana terjadi, Hamka yang merupakan montir dari Bengkel Motor Inovasi milik kakaknya, sudah hendak menutup bengkelnya.

“Kebetulan hari itu pelanggan banyak. Jadi saya lambat menutup bengkel. Ketika gempa saya terjatuh dan kaki saya terjepit mesin kompressor,” kenang Hamka.

Nahas, saat berusaha melepaskan kakinya yang terhimpit kompressor, tiba-tiba tanah di belakangnya terbelah sangat lebar.

Setengah badannya, bagian kepala hingga perut, nyaris jatuh ke sela-sela tanah yang mulai berlumpur itu.

“Saya teriak-teriak minta tolong juga tidak ada yang mendengar karena suasananya sangat bising,”

“Warga lain juga histeris, belum lagi suara atap rumah dan bangunan yang terkoyak atau rubuh,” tuturnya.

Untungnya, tiba-tiba kompressor yang menghimptnya terangkat karena pergerakan tanah sehingga kakinya lepas.

Tapi Hamka berlum bisa bernafas lega. Sebab seketika itu juga seluruh badannya tenggelam ke dalam lumpur.

“Di dalam lumpur tangan saya terus bergerak berusaha meraih apapun yang biasa. Saya juga sempat merasakan memegang kaki atau tangan manusia,” jelasnya.

Ketika likuifaksi terjadi, tiang-tiang listrik juga bertumbangan. Lalu ada kabel yang ikut terendam lumpur dan berhasil diraih Hamka.

Kemudian kabelnya tertarik kencang seiring dengan pergeseran tanah.

“Karena talinya mengencang jadi saya bisa mengangkat badan. Di situ saya sudah bisa sedikit bernafas, kapala sudah tidak terendam lumpur lagi,” lanjutnya.

Saat itu Hamka tidak bisa melihat apapun. Di benaknya, dirinya mengalami kebutaan. Padahal tertutup lumpur.

Kemudian ia berusaha meminta tolong lagi, tapi samar-samar terdengar warga lainnya semakin jauh.

“Jadi saya berpikir saya harus terus berjalan di dalam lumpur dengan berpegang pada kabel listrik itu untuk bisa lebih dekat dengan warga lain,” ujar pria asal Soppeng, Sulawesi Selatan itu.

Setelah cukup lama berjuang keluar dari lumpur dan meminta tolong, akhirnya ada yang mendengar dan membantu Hamka keluar dari pusaran lumpur.

Seketika ia dilarikan ke Rumah Sakit Torabelo, Sigi. Setelah diinfus, Hamka dibaringkan di halaman parkir rumah sakit seperti pasien lainnya.

Sebab saat gempa terjadi, semua pasien dikumpulkan di halaman parkir.

“Waktu itu saya terbaring di deretan korban lain yang sudah meninggal. Saya pun yang dalam kondisi telanjang bulat terpaksa dibungkus dengan kantong mayat. Keadaannya darurat,” kenang Hamka lagi.

Saudara Hamka, Jemma (40) yang berusaha mencarinya di rumah sakit Torabelo kesulitan menemukan Hamka.

Sebab di wajahnya masih banyak sisa-sisa lumpur dan suasananya gelap.

“Samar-samar terdengar Jemma memanggil nama saya lalu saya berusaha menyahut,” katanya.

Sayangnya, saudaranya itu tak mengira bahwa suara itu adalah dirinya.

“Dia mengira bukan saya karena suara berasal dari deretan mayat itu. Barulah ketika ia datang untuk kedua kalinya baru bisa mengenali wajah saya,” bebernya.

“Di situ baru yakin bahwa saya selamat dari maut. Alhamdulillah,” ujarnya.

Selain kakinya yang luka parah akibat terhimpit kompressor, Hamka hanya mengalami beberapa luka lecet di badannya.

Namun ia masih trauma dengan peristiwa tragis yang baru saja dialami.

Sejak kejadian itu, saban hari kala menjelang magrib, Hamka selalu terngiang perjuangannya keluar dari pusaran lumpur.

“Bahkan tiga hari lalu, ketika saya buang air, masih ada lumpur keluar,” ujarnya.

Hamka dan lima anggota keluarganya yang tinggal serumah selamat dari musibah itu.

Namun ada enam keluarganya yang bertetangga dengannya sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. [pojoksatu]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...