Muhammadiyah Telurusi Pesan KH Ahmad Dahlan soal Kaitan Bencana dengan Pemimpin
logo

12 Oktober 2018

Muhammadiyah Telurusi Pesan KH Ahmad Dahlan soal Kaitan Bencana dengan Pemimpin

Muhammadiyah Telurusi Pesan KH Ahmad Dahlan soal Kaitan Bencana dengan Pemimpin


GELORA.CO - Berapa hari belakangan, muncul pesan berantai baik lewat Whatsapp atau media sosial terkait pesan yang diklaim berasal dari pendiri Muhammadiyah mendiang Kiai Haji (KH) Ahmad Dahlan. Dalam pesan itu berisi kutipan Kiai Ahmad Dahlan yang mengaitkan antara bencana alam dengan pemimpin.

Pesan yang disebut sudah berumur satu abad itu, secara garis beras mengatakan jika terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak dari pemimpinnya. Tulisan itu juga menekankan jika pemimpinnya sudah rusak, maka rusaklah tatanan masyarakatnya. 

Masyakarat yang rusak itu kemudian saling memfitnah, saling menghujat, saling mencela. Di saat itu Allah akan memberi peringatan dengan berupa musibah yang tiada henti.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Yunahar Ilyas mengaku mendapatkan pesan berantai itu. Namun, ia menegaskan pernyataan itu belum terverifikasi keluar dari mulut Kiai Ahmad Dahlan. Muhammadiyah, kata dia, masih akan menelusuri kesahihan kutipan tersebut.

"Belum terverifikasi, kami akan menelusuri itu benar atau tidak dari Kiai Ahmad Dahlan," kata Yunahar kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/10).

Yunahar berpendapat sepanjang pengetahuannya, belum ada tafsiran langsung yang mengaitkan bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi dengan seorang pemimpin yang rusak. Dia pun mengutip sebuah hadis riwayat Bukhari soal kerusakan yang dikaitkan dengan kualitas pemimpin.

Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad menyatakan jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Menanggapi hal tersebut seorang sahabat Nabi meminta rincian penjelasan maksud amanat yang disia-siakan tersebut.

Saat itu, Nabi Muhammad menjawab jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu. Yanuhar menjelaskan penafsiran hadis tersebut bisa diartikan untuk pemimpin. Menurut dia, kehancuran akan terjadi jika suatu kaum memilih pemimpin yang tidak ahli.

"Jadi kalau kota diserahkan pada Wali Kota yang tidak benar ya rusak kotanya. Begitupun provinsi atau negara, kalau tidak diserahkan ke gubernur atau presiden yang baik bisa hancur," ungkap Yunahar.

Kendati demikian, hadis itu memang tidak merinci kehancuran yang dimaksud berkaitan langsung dengan gempa bumi, tsunami atau bencana lainnya. 

"Kalau pun benar pesan berantai itu dari Kiai Ahmad Dahlan, mungkin hadis itu yang dimaksud. Tapi tidak spesifik kehancurannya dalam bentuk bencana alam," kata Yunahar.

Yunahar menyebut tradisi pendidikan di zaman Kiai Ahmad Dahlan kebanyakan menggunakan pola muridnya menulis apapun yang disebutkan oleh gurunya. Sepengetahuan dia, Kiai Ahmad Dahlan sendiri tidak pernah meninggalkan karya tulis. 

Yanuhar mengatakan dalam menuliskan apa yang disebutkan oleh kiainya, murid biasanya mencantumkan sumber kitab, hadis atau Alquran rujukan yang melatarbelakanginya.

"Kalau kutipan yang beredar kan cuma ditulis langsung Kiai Ahmad Dahlan. Biasanya tradisi pencatatan ditulis tujukan kitab, hadis atau Alqurannya," pungkas Yunahar. [cnn]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...