Martimus Amin: Rezim Jokowi Rezim Horor
logo

3 Oktober 2018

Martimus Amin: Rezim Jokowi Rezim Horor

Martimus Amin: Rezim Jokowi Rezim Horor


GELORA.CO - Rezim Joko Widodo (Jokowi) bisa saja disimpulkan sebagai rezim horor merujuk banyaknya kasus penganiayaan yang dialami orang-orang yang kritis kepada pemerintah.

Begitu disampaikan pengamat hukum dari The Indonesian Reform, Martimus Amin, melalui pesan elektronik kepada redaksi, Selasa (2/10).

Kasus terakhir, sebut Martimus, dialami aktivis Ratna Sarumpaet. Ratna dianiayai dan dikeroyok tiga orang pria di sekitar Bandara Husein Sastranegara Bandung pada Jumat (21/9) malam usai menghadiri sebuah konferensi yang dihadiri beberapa perwakilan sejumlah negara di sebuah hotel. 

Ratna yang dikenal sebagai aktivis perempuan sang "Sang Marsinah Menggugat" atas keberaniannya menggugat pembantaian yang dialami buruh Sidoarjo, Marsinah, tahun 1993, itu dikeroyok hingga babak belur.  

"Selama ini kita mengenal Ratna kerap adalah sosok mengkritisi kebijakan pemerintahan. Suatu yang wajar saja di era keterbukaan saat ini. Mengapa ia sampai harus diperlakukan demikian keji. Ini membuat akal sehat kita tidak habis pikir," kata Martimus.

Dalam catatan Martimus, kejadian penganiayaan tidak hanya dialami Ratna Sarumpaet. Ada daftar panjang sejumlah aktivis yang telah menjadi korban penganiayaan dilakukan oleh  pihak yang tidak senang dengan ekspresi dan kebebasan berpendapat warga negara yang telah dijamin dalam konstitusi.

Di antaranya dialami ahli IT alumni ITB Hermasyah. Ia dikeroyok dan dibacok sekelompok orang tak dikenal karena sepak terjangnya membongkar kebohongan digital kasus chat porno Rizieq Shihab dan Firza Husein yang dijadikan bahan penyelidikan oleh kepolisian.

Kasus lainnya, penyiraman air keras yang dialami penyidik KPK Novel Baswesan. Sebelah mata Novel buta permanen. Kasus yang mirip dialami aktivis ICW, Tama Satya Langkun, yang gencar menyoroti kepemilikan rekening gendut perwira Polri itu hingga kini belum terungkap.

Lalu serangkaian kasus penganiayaan dan pembunuhan para ulama yang dilakukan orang gila juga berlangsung di masa kekuasaan saat ini.

"Dimana keberadaan dan posisi negara yang seharusnya mampu memberi rasa aman dan melindungi segenap tumpah darah warganya. Jangan sampai kejadian terus berulang sehingga rakyat menilai bahwa penguasa era refomasi telah menjelma menjadi rezim horor," tukas Martimus.[rmol]

Loading...
loading...