Kisah Warga Petobo Selamat dari Likuefaksi: Piring-Piring Utuh, Laptop Bisa Menyala
logo

12 Oktober 2018

Kisah Warga Petobo Selamat dari Likuefaksi: Piring-Piring Utuh, Laptop Bisa Menyala

Kisah Warga Petobo Selamat dari Likuefaksi: Piring-Piring Utuh, Laptop Bisa Menyala


GELORA.CO - RUMAH amblas ke dalam tanah, lalu naik ke permukaan hingga dua meter, aspal seperti dipelintir, tanah menggunung setinggi lima meter dan mengeras dalam 14 hari setelah fenomena likuefaksi di Petobo, Palu.

Kini yang selamat kembali ke bekas rumah mereka, mencari barang-barang yang masih bisa digunakan.

Gundukan tanah bagai bukit bercampur puing bangunan di atas area seluas 180 hektare merupakan medan yang tidak bersahabat lagi bagi Hasnah Hamid, ibu empat anak, yang selamat dari musibah itu di Petobo.

Rumahnya sulit ditemukan, karena sudah bercampur dengan tanah yang mengeras.

Hasnah mengikuti jejak eskavator yang lebih aman untuk dipijak. "Sudah tidak ada pohon, tertelan lumpur," katanya. Hasnah membuka payungnya, melindungi dirinya dari teriknya sinar matahari.


Alat berat itu sejak 1 Oktober lalu beroperasi untuk membelah gundukan lumpur yang menelan ribuan rumah dan kendaraan, membuat jalan baru agar proses pencarian korban lebih mudah.

Hasnah selamat karena ia tidak berada di rumahnya saat bencana itu terjadi.

"Sore itu berada di Tolitoli, saat gempa terasa, saya baru tahu rumah hancur malamnya, akhirnya ke Palu pukul delapan malam, jalur Kebun Kopi terputus, sehingga baru sampai rumah paginya." Kata Hasnah sambil berjalan dan menerka letak rumahnya.

Suami dan anaknya berada di dalam rumah. Ketika merasakan gempa, mereka langsung lari keluar rumah dan menyelamatkan diri. "Suami saya bilang, tanah seperti bergelombang dan retak," tambah Hasnah.

Seperti dipelintir

Dia mampu mengenali rumahnya karena melihat rongga di antara tumpukan puing bangunan. Ia mengenali barang-barang yang tercecer.

Sesaat kemudian ia menumpuk dua lusin piring, dan beberapa perabot rumah tangga yang mudah pecah, semuanya dalam keadaan utuh. Bahkan surat-surat berharga ditemukan tanpa noda lumpur. Laptop milik anaknya juga masih berfungsi.

Hasnah sampai heran ketika mengumpulkan semua barang-barang itu, ketika melihat area di sekelilingnya seperti dipelintir.

"Barang saya ini tidak apa-apa, piring tak pecah, mungkin karena rumahnya ke dalam, lantainya naik, barang-barang ada di atas lantai, pengaruh air di dalam tanah, ini tadinya rawa, mungkin itu, rumah turun tidak keras, kalau keras jatuhnya mungkin ini pecah," kata Hasnah.

Safrudin, warga lain di Petobo, sementara itu bingung karena tidak bisa menemukan benda-benda miliknya. Rumahnya amblas dan tanah di sekitarnya naik setinggi hingga lima meter.


Safrudin sejak tadi mengintip lewat celah-celah kayu yang mengarah ke bawah, ia perkirakan itu beranda rumah, tiga motor saudaranya yang kebetulan parkir di sana sudah tidak bisa diselamatkan.

Dia dan tujuh saudaranya tinggal di Palu. Meski barangnya tertelan lumpur, semua keluarganya selamat termasuk istri dan anaknya. "Rencananya lihat acara di pantai, setelah mandi sudah mau ke sana, tiba-tiba datang gempa," ungkap Safrudin.

Ketika itu keluarga besar berkumpul di rumah salah satu kerabat di Palu, bersiap-siap untuk menghadiri pesta adat Palu Nomoni, yang diadakan setahun sekali di Pantai Talise. Mereka mengenakan pakaian terbaiknya untuk menghadiri festival. Safrudin bahkan sempat membeli baju baru untuk anaknya.

Saat gempa bumi berkekuatan 7,4 pada skala Richter terjadi Jumat (28/9) petang, Safrudin masih di rumah, belum sempat ke pantai. "Kami saling tunggu, karena kamar mandi cuma satu, tujuh keluarga berkumpul di sana, jadi pasti telat untuk ke pantai," kata Safrudin. Rumah kerabatnya berada sekitar lima kilometer dari pantai, termasuk yang paling utuh dari guncangan gempa.

Ia tidak menyangka bahwa keputusannya untuk berkumpul dahulu di rumah kerabat, justru menyelamatkan mereka semua dari bencana: tsunami di Pantai Talise, gempa bumi, dan fenomena alam likuefaksi yang menelan rumahnya di Petobo.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan tedapat 5.000 orang lebih yang masih hilang di Balaroa dan Petobo, yang mengalami likuefaksi dan amblesan.

BNPB memutuskan untuk mengakhiri masa pencarian korban hilang pada Jumat, 12 Oktober 2018, setelah sebelumnya sempat diputuskan pada 11 Oktober 2018. [okz]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...