Kisah Arsan Selamat Digulung Tanah di Sigi karena Peluk Pohon Pisang
logo

7 Oktober 2018

Kisah Arsan Selamat Digulung Tanah di Sigi karena Peluk Pohon Pisang

Kisah Arsan Selamat Digulung Tanah di Sigi karena Peluk Pohon Pisang


GELORA.CO - Tak satu pun manusia yang tahu kapan tiba ajal datang menjemput. Kematian penuh misteri dan kehidupan memang seturut kehendak Ilahi.

Jumat (27/9) sore itu, Arsan sedang mengembala tujuh ekor sapinya di dekat lahan kebunya di Desa Jono Oge, Sigi, Palu. Angin sepoi-sepoi menemaninya saat ia hendak menyelesaikan pekerjaanya.

Tiba-tiba, suara gemuruh angin terdengar entah dari mana datangnya. Ansar heran suara angin itu seharusnya membuat dedaunan beterbangan namun hal itu tidak terjadi. Suaranya pun semakin menjadi-jadi dan aneh mirip suara seruling bambu.

“Ada suara angin itu seperti orang bermain seruling bambu, kita tenang mendengarnya, tapi saya heran ini apa ini begitu,” ucap Arsan kepada kumparan, Minggu (7/10) di pengungsian Sidera, Sigi, Palu.

Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang terkena likuifaksi.

Ia pun berniat untuk pulang ke rumahnya yang tak jauh dari kediamannya. Belum jauh melangkahkan kaki, tanah tiba-tiba bergoyang hebat dengan kencang hingga membuatnya terjatuh.

Guncangan tersebut semakin membuat dirinya ketakutan dan berpikiran kematian semakin mendekat. Tanah-tanah di depannya mulai retak ditambah air dari Irigasi Gumbasah yang berpusat dari Waduk Pakuli naik ke atas hendak mengejarnya.

“Saya berdiri saya lihat semua tanah bergeser berjalan seperti gunung itu air di waduk naik ke atas, ya Allah ini sudah ajal saya,” tambah Arsan.

Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang terkena likuifaksi

Tak mau berpasrah diri, kakek berusia 55 tahun ini meloncati setiap permukaan tanah didepanya  sembari dari belakang ia dikejar oleh gundukan tanah yang menggulung semua tanaman di atas sawahnya.

Tak berselang lama, gundukan tanah itu sudah mengejar dan mendekatinya, ia melihat sebuah pecahan tanah yang ditanam oleh pohon pisang terombang-ambing di belakangnya ia kemudian memeluknya dan gundukan tanah itu membawanya berjalan layakanya papan seluncur.

“Itu pisang saya peluk saja, saya pasrah dan saya turun dibawa terus ke bawah,” tambahnya.

Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang terkena likuifaksi.

Sekitar 25 menit kejadian mencekam itu ia alami, ia tak tahu lagi bagaimana nasibnya saat itu. Di depan matanya ia melihat para  petani lainya masuk kedalam tanah seperti ditelan bumi. Tapi ia tak bisa berbuat banyak selain hanya mencoba menyelamatkan diri. 

“Ada orang minta tolong kemudian saya lihat seperti diblender tanah masuk ke dalam dan tak terlihat lagi,” ujarnya. 

Setelah semuanya berhenti, Arsan tak tahu di mana ia berada apalagi hari itu sudah sangat malam. Perlahan ia menurunkan kedua tanganya meraba-raba tanah disampingnya. 

Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang terkena likuifaksi.

Ia terkejut, lumpur berada di sampingnya lalu ia mendapatkan bongkahan kayu yang ia gunakan pijakan untuk melangkahkan kaki.

“Ada kayu saya patahkan dan itu saya buat ke tanah saya injak pelan-pelan,” tambahnya.

Dengan perasaan gusar dan ketakutan, Ansar memilih bertahan di tanah yang ia yakini aman untuk berdiam diri sampai esok pagi. Singkatnya, Sabtu pagi ia kembali ke rumahnya dan terkejut tak lagi melihat rumahnya. 

Namun ia bersyukur istri dan ketiga anaknya juga selamat dari peristiwa itu. “Saya ke rumah, rumah saya tidak ada lagi,” ujarnya.

Ansar (55), warga Desa Jono'oge, Kec. Biromaru, Kab. Sigi, sedang menggiring kerbau.

Aneh tapi nyata, kisahnya ia bagikan pada semua orang di pengungsian. Saat yang sama ketika ditemui kumparan, Ia juga menyempatkan untuk mencari kayu bakar bersama anaknya menggunakan gerobak sapi miliknya.

“Ini sapi saya semua selamat tidak mati, ini gerobaknya juga masih ada,” tutup Arsan penuh sukacita. 

Selain Petobo, Balaroa dan Kota Palu, kawasan Desa Jono Oge di Sigi memang termasuk paling parah. Desa tersebut hilang tak berwujud setelah bergeser 3 km jauhnya. Warganya kini mengungsi dan masih menyimpan rasa trauma. [kmp]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...