logo

3 Oktober 2018

Kejam, Begini Cara PKI Bantai Ribuan Tokoh dan Ulama di Madiun

Kejam, Begini Cara PKI Bantai Ribuan Tokoh dan Ulama di Madiun


GELORA.CO - Monumen Kresek menjadi saksi bisu kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) saat membantai sejumlah tokoh dan ulama di Madiun. Kekejamannya pun telah melegenda.

Gambaran kekejaman PKI tersebut dapat dilihat di sejumlah relief yang ada di seputaran monumen. Tak jarang pengunjung merasa miris dan tidak tega untuk melihatnya.

"Ngeri sekali ini gambar reliefnya. Banyak korban dibunuh secara kejam. Diikat tangan dan kaki, diseret, serem," ujar salah satu pengunjung, Nia (25) kepada detikcom, Rabu (3/10/2018).

Nia sendiri mengaku datang ke monumen ini karena penasaran dengan cerita kekejaman PKI. Ia berharap dengan datang ke monumen itu, maka ia bisa menyampaikan cerita itu kepada anak cucunya kelak.

"Saat kejadian saya memang belum lahir, tapi saya akan menceritakan ke anak cucu saya kelak tentang kekejaman PKI dalam sejarah," paparnya.

Dikisahkan salah satu pengelola Monumen Kresek, Heri Purwadi, dalam sejarahnya, mereka yang menjadi korban kekejaman PKI, baik dari tokoh ulama, santri maupun prajurit TNI dibunuh secara keji, dicambuk, disayat dengan pisau, bahkan juga ada yang dikubur hidup-hidup.

"Kalau mendengar ceritanya sangat miris. Ini patung yang paling besar menggambarkan bagaimana PKI mengacungkan celurit ingin membantai seorang ulama yang pasrah," jelasnya.


Ada pula relief yang menggambarkan seorang warga ditelanjangi dan diseret dengan tangan kaki terikat. "Ada juga seorang kyai yang diikat, diseret, kondisi telanjang. Ndak tega kalau membayangkan," tambahnya.

Tak tanggung-tanggung, korban pembantaian PKI kala itu mencapai 1.920 orang, padahal PKI hanya menduduki Madiun selama 13 hari saja, terhitung sejak tanggal 18-30 September 1948.

"Sesuai data resmi dari Kodim Madiun yang kita buat referensi pembuatan brosur bahwa PKI menguasai Madiun sejak 18 hingga 30 September 1948. Singkat namun ada ribuan korban yang berhasil dibinasakan dengan kejam," ujar pengelola monumen lainnya, Tri Sugianto.

Pemberontakan kala itu dipimpin oleh Musso, tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (kini Rusia).

"Dalam sejarahnya Musso menawarkan gagasan yang disebutnya jalan baru untuk Republik Indonesia. Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI. Untuk itu harus dilakukan fusi tiga partai yang beraliran Marxisme-Leninisme PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang disebut Komite Front Nasional," terangnya.

Beruntung pemberontakan itu akhirnya berhasil ditumpas pada tanggal 1 Oktober 1948. Musso sendiri berhasil ditangkap saat lari ke Desa Kresek dengan mengepungnya dari berbagai penjuru.

Namun pria yang juga aktif sebagai pengelola Pokdarwis Desa Kresek ini berharap pengunjung tidak takut dengan relief-relief tersebut. Sebab tujuan pembuatan relief dan monumen ini adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban. [dtk]

Loading...
loading...