Giliran Putri Habib Rizieq Shihab Dilarang Masuk ke Yaman

Giliran Putri Habib Rizieq Shihab Dilarang Masuk ke Yaman

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - TERSEBAR informasi melalui medsos terkait terkatung-katungnya 200 mahasiswa dan mahasiswi di Oman yang ingin melanjutkan pendidikan ke Yaman, Senin (8/10). Di antara mereka ada putri Habib Rizieq Shahab (HRS).

Sebagaimana informasi yang diteruskan oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI), Ustaz Sobri Lubis, para mahasiswa dan mahasiswi, termasuk putri Imam Besar HRS, terkatung-katung di Oman. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan ke Yaman karena pihak KBRI tak memberikan rekomendasi.

Pada saat yang sama, para pelajar dari Thailand bisa mendapatkan rekomendasi dari kedutaan mereka untuk masuk ke Yaman. Hal inilah yang membuat bingung rombongan pelajar asal Indonesia.

Negara non muslim seperti Thailand saja bisa memberikan rekomendasi dengan mudah. Sedangkan Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, malah berkeberatan memberikan rekomendasi kepada para warganya untuk melanjutkan pendidikan agama ke Yaman.

Memang benar kondisi Yaman saat ini bisa dikatakan labil, tapi tidak semua daerah rawan konflik. Hadramaut adalah termasuk kawasan yang aman. Selain itu, kondisi Yaman jauh lebih aman dibanding pada awal agresi Saudi ke Yaman. Semestinya larangan berlaku sejak awal, tapi mengapa baru sekarang.

Sepekan sebelum mereka bertolak ke Yaman,  perwakilan pelajar sudah menemui Wamenlu RI di Jakarta untuk minta rekomendasi, namun ditolak dengan alasan Yaman sebagai "Zona Perang". Padahal tujuan para mahasiswa adalah Universitas Al Ahqaf yang letaknya di Hadramout. Sementara Hadramout bukan daerah konflik.

Ada kecurigaan, pemerintah sengaja menghadang para pelajar Yaman untuk melanjutkan pendidikan mereka di Negeri Para Wali tersebut.  Apalagi ada informasi dari sejumlah pengelola pesantren yang didatangi aparat keamanan untuk tidak mengirimkan santri mereka ke Yaman dengan alasan dikhawatirkan menjadi ekstrim.

Tentu alasan kekhawatiran menjadi ekstrim tak bisa diterima. Sejauh ini, Yaman, khususnya Hadramaut, mempunyai sumbangsih pendidikan agama yang luar biasa pada Indonesia. Apalagi di kalangan umat yang berbasis NU, lulusan pendidikan Yaman lebih diterima ketimbang  lulusan pendidikan lainnya.

Ironisnya, banyak dubes yang ditempatkan di Timur Tengah adalah dari kalangan NU. Mestinya, masyarakat NU diuntungkan dengan kecenderungan kalangan pelajar agama yang melanjutkan pendidikan ke Hadramout. Para pelajar agama lulusan Yaman lebih cenderung sama dengan NU secara  pemikiran, kultur dan tradisi keagamaan.

Sangat disesalkan bila kebijakan larangan ini harus diberlakukan bagi para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke Yaman. Kemenlu sudah selayaknya tak menghalangi para mahasiswa dan memberikan rekomendasi kepada mereka.

Bila kebijakan larangan semacam ini dipaksakan, maka hampir seluruh negeri Timur Tengah tak bisa dikunjungi dan tak bisa jadi tempat belajar dengan alasan "tidak aman". Sebagai contoh, Irak adalah di antara negeri rawan konflik  tapi di sana masih ada ratusan pelajar Indonesia yang mengenyam pendidikan agama di kawasan aman seperti Najaf dan Karbala.

Najaf dan Karbala termasuk kategori daerah aman di tengah konflik dan ancaman teroris ISIS di Irak. Kedua kota di Irak itu tak beda dengan Hadramaut yang aman di tengah agresi Saudi ke Yaman. [rmol]

Alireza Alatas
Penulis Adalah Pembela ulama dan NKRI dan aktivis SILABNA-Silaturahmi Anak Bangsa.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita