Erdogan Sebut Turki Tak Bakal Terima Bantuan IMF
logo

9 Oktober 2018

Erdogan Sebut Turki Tak Bakal Terima Bantuan IMF

Erdogan Sebut Turki Tak Bakal Terima Bantuan IMF


GELORA.CO - Presiden Turki Tayyip Erdogan menekankan pihaknya tak akan lagi menerima bantuan apa pun dari Dana Moneter Internasional (IMF). Saat ini, pemerintah Turki tengah berjuang memerangi penurunan nilai tukar mata uangnya, Lira, dan inflasi yang melejit.

"Turki menutup bab IMF dan tidak akan membukanya lagi," ujar Erdogan saat berpidato dalam rapat konsultasi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Ankara, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (8/10).

Turki telah melunasi seluruh utangnya kepada lembaga peminjaman internasional pada 2013 lalu. Erdogan menambahkan Turki tak lagi memerlukan pinjaman dan bantuan teknis dari IMF.

Sementara itu, Menteri Keuangan Berat Albayrak menyebut kondisi perekonomian Turki kini tengah memasuki proses stabilisasi.

Ia menekankan rasio utang terhadap PDB Turki cukup rendah yakni mencapai 28 persen. Demikian pula dengan rasio utang rumah tangga yang mencapai 16 persen.

"Disiplin anggaran,telah menjadi salah satu keberhasilan ekonomi," terang dia.

Albayrak juga membahas langkah-langkah pemerintah terhadap serangan spekulatif terhadap ekonomi Turki yang dialami negara tersebut dalam dua bulan terakhir.

Ia mengatakan bahwa perekonomian Turki telah memasuki proses keseimbangan. Albayrak mengacu pada defisit transaksi berjalan negara itu yang menurun dan meningkatnya ekspor neto.

Di sisi lain, pemerintah Turki baru saja menerbitkan pengecualian untuk kebijakan larangan menggunakan mata uang asing dalam perjanjian bisnis, termasuk kontrak terkait ekspor, instrumen pasar modal, dan kontrak kerja yang melibatkan orang asing. Hal tersebut termuat dalam lembaran resmi pemerintah.

Pengecualian larangan diberikan pada bidang-bidang seperti penjualan perangkat lunak yang diproduksi di luar negeri, kontrak sewa kapal, dan kontrak yang melibatkan lembaga negara, jika mereka tidak terkait dengan properti atau pekerjaan.

Jika ada kegagalan untuk menegosiasikan kembali kontrak yang saat ini dalam mata uang asing, maka akan dikonversi ke lira dengan nilai tukar resmi 2 Januari, dan meningkat sejalan dengan tingkat inflasi harga konsumen. [cnn]

Loading...
loading...