Dua Teori BNPB soal Desa Terbenam Lumpur Pascagempa Palu
logo

2 Oktober 2018

Dua Teori BNPB soal Desa Terbenam Lumpur Pascagempa Palu

Dua Teori BNPB soal Desa Terbenam Lumpur Pascagempa Palu


GELORA.CO - Tak berselang lama setelah gempa 7,4 SR di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9), tsunami menyapu pesisir pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah. Namun, efek gempa tak berhenti di Palu. Satu kampung tenggelam ke dalam tanah akibat efek likuifaksi, yakni Petobo.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan empat wilayah di sekitar Sulawesi Tengah, yaitu Petobo, Biromaru, Jono Oge, dan Sidera mengalami likuifaksi.

Menurutnya, likuifaksi adalah proses geologi di mana tanah kehilangan kekuatan karena tegangan atau getaran yang biasanya terjadi saat gempa bumi. Tanah pun berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatannya.

"Detik-detik saat rumah-rumah bergerak dan roboh disebabkan proses likuifaksi dan amblesan akibat gempa 7,4 SR di Kota Palu. Permukaan tanah bergerak dan amblas sehingga semua bangunan seperti hanyut," kata Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (1/10).

Sutopo mengatakan ada dua teori yang memungkinkan fenomena langka ini terjadi.

Pertama, guncangan gempa yang menyebabkan lapisan-lapisan tanah bawah yang awalnya padat, kemudian bercampur dengan air di bawah tanah, kemudian memuncratkan lumpur.

"Kekuatan [tanah]-nya berkurang, yang akhirnya menyebabkan bangunan yang ada di atasnya, pasti hancur diguncang gempa dengan posisi tanah di bawahnya gembur, amplifikasinya semakin besar, sehingga patah strukturnya," tuturnya.


Di masa lalu, munculnya insiden lumpur Lapindo, 2006, bisa jadi terjadi bukan hanya karena dibor tetapi juga karena gempa Jogja. Sutopo mengatakan material yang menghanyutkan rumah di Petobo sama hitamnya dengan Lapindo.

Teori kedua, katanya, akibat keberadaan lumpur purba yang terjebak di bawah permukaan tanah. Ketika gempa terjadi dan timbul retakan, lanjut dia, lumpur itu keluar.

Sutopo mengatakan tidak semua daerah rawan gempa terdapat proses likuifaksi. Lumpur biasanya terjadi di retakan retakan kecil antar lempeng. Namun hal itu masih tergantung dengan sedimen apa saja yang membentuk tanah itu.

"Kalau melihat dari proses pembentukannya, Sulawesi itu kan dibentuk oleh tiga lempeng. Lempeng Pasifik, Hindia Australia, dan Eurasia sehingga bentuk pulaunya aja aneh. Bentuk daratannya rendah kemudian bukit-bukit. Kemungkinan di dataran rendah itu ada cekungan cekungan yang kemungkinan isinya adalah lumpur-lumpur purba," terangnya.

Oleh karena itu, katanya, perlu penelitian lebih detail. Indonesia perlu pemetaan lebih detail untuk mengetahui titik likuifaksi dan biaya penelitiannya mahal.

"Hingga saat ini belum semua wilayah di Indonesia bisa terpetakan likuifaksinya. Belum semua wilayah Indonesia itu terpetakan jalur-jalur sesarnya," katanya.


Dia menghimbau ke depan, penataan ruang di Indoensia dibarengi dengan data-data kerawanan likuifaksi ini. Tujuannya untuk mitigasi bencana.

"Pemerintah daerah di Indonesia, yang daerahnya rawan gempa, harus membuat peta mikrozonasi, dengan peta itu akan diketahui berapa potensi terjadinya gempa. Apalagi ditambah pemetaan likuifaksi yang tadi," kata dia.

Evakuasi Lebih Sulit

Di daerah Patobo, BNPB memperkirakan ada 744 unit rumah yang amblas karena likuifaksi. Evakuasi di daerah itu diakui Sutopo akan lebih sulit karena tanahnya masih gembur sehingga akan sangat membahayakan bila mengevakuasi dengan alat berat.

"Alat berat di daerah yang biasa saja sulit apalagi ketika alat berat ke Patobo bisa amblas. Mungkin di permukaannya kering. Tapi mungkin yang di bawah masih gembur sehingga akan sangat berbahaya untuk menggunakan alat berat," ujarnya.

Sejauh ini, proses evakuasi dilakukan secara manual dengan mengutamakan keselamatan. Padahal, jumlah korban yang berada di wilayah tersebut ditaksir besar.

"Sayangnya kita juga belum mengetahui ada berapa penduduk yang ada di sana," kata Sutopo. [cnn]

Loading...
loading...