Ustaz Abdul Somad Menampar Kalian, Akankah Kita Terus Diam?
logo

5 September 2018

Ustaz Abdul Somad Menampar Kalian, Akankah Kita Terus Diam?

Ustaz Abdul Somad Menampar Kalian, Akankah Kita Terus Diam?


Oleh: Nasrudin Joha*

Ustadz Abdul Somad (UAS) membatalkan ceramah di beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Beliau mengaku pembatalan tersebut dilakukan lantaran adanya ancaman dan intimidasi terhadap kegiatan dakwah beliau. Tidak disebut dari mana dan seperti apa bentuk ancaman dan intimidasi yang diterima. Namun, kita haqqul yakin dan percaya penuh dengan penuturan beliau.

Bukannya menyayangkan atas adanya tekanan dan intimidasi yang dialami UAS, seorang kakek tua yang menjadi jubah rezim, mendampingi sang pendusta dalam ajang pemilihan kepala negara, justru mempertanyakan kebenaran ancaman dan intimidasi. Kakek tua ini, malah mempersoalkan bagian kepanitiaan di tataran teknis.

Tentu saja, dalam mustolahal hadits orang yang adil dan dikenal keutamaan ilmu dan penjagaan muroah, lebih diutamakan periwayatannya ketimbang seseorang yang tertuduh ‘bermasalah’. Pengakuan UAS tentang adanya ancaman dan intimidasi atas aktivitas dakwah yang beliau rasakan, lebih kita kuatkan dan percayai ketimbang ungkapan seorang kakek tua yang dituduh menggunakan sorban kesalehan untuk menelikung profesor sosmed.

Pernyataan UAS tentang hal ini adalah tamparan buat kita, umat Islam. Bagaimana mungkin kita tidak bisa menjaga dan memuliakan ulama kita, padahal masing-masing dari kita memiliki kedudukan dan penghormatan ? Bagaimana mungkin itu bisa menimpa UAS, sementara kita berdiam diri saja ?

Kita ketahui bersama, ada duri dalam daging, ada kaum munafik yang mengaku Islam, berkelindan dibalik baju ormas Islam tetapi kerap membubarkan aktivitas dakwah Islam. Kita juga ketahui, ormas induk samangnya tidak pernah menegur, bahkan pernyataan elitnya justru sering menyakiti hati umat Islam.

Kita juga bisa tahu, pembubaran pengajian, mempersoalkan volume azan, itu semua hanya terjadi di rezim ini. Bahkan, alat negara juga disalahgunakan menjadi alat kekuasaan. Tagar saja dikriminalisasi.

Kalau simbol dan ajaran Islam dikriminalisasi, ulama dipersekusi, aktivis Islam diburu pasal karet UU ITE, kini tagar saja dipersoalkan. Bahkan konon, hanya untuk urusan tagar saja ‘Wereng Cokelat’ bikin aturan khusus, instruksi khusus, kayak negara ini milik mereka saja.

Karenanya, kita harus bersatu padu membela UAS, kita merasa sangat malu jika UAS ulama kita merasa terancam dan terintimidasi, sementara kita tidak berbuat apa-apa. UAS tidak mungkin berteriak meminta tolong pada kita, tetapi pernyataan UAS yang merasa diintimidasi ini sebuah tamparan keras buat kita.

Apa lagi yang mau kita banggakan dari harta dan kedudukan yang kita miliki, jika tidak kita gunakan untuk membela ulama kita ? Apalagi pengorbanan yang bisa kita persembahkan, selain memberikan pembelaan dan perlindungan pada ulama kita ?

Semua ini karena rezim yang bercokol saat ini. Sebelumnya, tidak pernah ada penghinaan terhadap ulama ketika dakwah diminta hormat bendera dan menyanyikan lagu seperti anak TK. Sikap lancang dan melecehkan ulama ini, dibiarkan rezim bahkan diduga kuat atas arahan dan supervisi rezim.

Karena itu, 2019 harus ganti Presiden. Tidak ada faedahnya, mempertahankan rezim represif anti Islam terus bercokol dan menyakiti umat Islam. Kita wajib menghentikan kezaliman rezim, dengan menyatukan satu kekuatan. Jika kekuatan kita berhimpun, InsyaAllah satu kali tinju rezim ini akan jatuh. [swa]

*) Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Loading...
loading...