Target Jokowi Ekonomi RI Tumbuh 5,4% Sulit Tercapai?
logo

14 September 2018

Target Jokowi Ekonomi RI Tumbuh 5,4% Sulit Tercapai?

Target Jokowi Ekonomi RI Tumbuh 5,4% Sulit Tercapai?


GELORA.CO - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku bahwa pemerintah pesimistis dapat merealisasikan target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4%.

Hal itu diungkapkan pada saat rapat kerja (raker) pemerintah bersama Komisi XI DPR tentang pengambilan keputusan asumsi dasar ekonomi makro tahun anggaran 2019.

Sri Mulyani mengaku bahwa proyeksi pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi tahun ini berada pada rentang di bawah 5,4%.

Berikut ulasannya:

Sri Mulyani memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2018 akan berada di level 5,14-5,21%.

"Sepanjang 2018 kami memproyeksikan pertumbuhan 5,14 - 5,21, ini based line di 2018," kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (13/2018).

Proyeksi tersebut, kata Sri Mulyani karena telah menghitung dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2018 yang sebesar 5,27%.

Bahkan dia meramalkan lagi bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2018 akan berada di level 5,13-5,25%.

"Kuartal III dengan dinamika yang terjadi, antisipasi bahwa konsumsi masih terjaga di atas 5%, dan inflasi cukup bagus, sehingga akan liat di kuartal III ekspektasi proyeksi antara 5,13 - 5,25%," jelas dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini tengah dipengaruhi gejolak ekonomi global.

"Kondisi perekonomian saat ini seperti kita pelihara kesehatan, maka perekonomian kalau dipelihara juga akan liat dinamika baik dari dalam maupun dari luar. Ada faktor dari luar yang bisa mempengaruhi kesehatan perekonomian ada juga faktor dari dalam," ujarnya dalam acara Forum Riset Life Science Nasional 2018 di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Kamis (13/9/2018).

Menurutnya gejolak itu bersumber dari Amerika Serikat (AS). Bank Sentral AS, The Fed saat ini tengah melakukan normalisasi kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan dan mengurangi likuiditas dolar AS yang tersebar di dunia. Hal ini merupakan imbas setelah AS mengalami krisis di 2008.

"Setelah terjadi krisis 2008-2009, waktu itu dengan kondisi ekonomi yang turun tajam, AS turunkan suku bunga acuan dari 5% ke 0%. Sekarang ekonominya pulih, suku bunganya sudah dinaikkan lagi mendekati 2% dan kemungkinan naik lagi," terangnya.

Kemudian, lanjut Sri Mulyani, pemerintah AS yang dipimpin Donald Trump mengambil kebijakan-kebijakan ekstrem. Salah satunya melakukan perang dagang dengan China.

Belum lagi mulai ada beberapa negara yang mengalami krisis, seperti Turki dan Argentina. Kondisi kedua negara itu semakin memperparah, sebab muncul persepsi bagi investor asing bahwa negara-negara berkembang kemungkinan besar akan bernasib sama.

Guncangan ekonomi itu juga mulai mempengaruhi terhadap keseimbangan neraca pembayaran. Defisit pun semakin lebar yang disebabkan selain impor yang lebih besar dari ekspor, juga keluarnya arus modal asing.

Meski begitu dia menegaskan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia masih dalam keadaan yang sehat. Pertumbuhan ekonomi masih di sekitar 5,2% dan inflasi yang terjaga di level 3,5%.

Dengan melihat dinamika perekonomian global, Sri Mulyani menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 yang sebesar 5,3% masih realistis.

Dia menceritakan, realistis yang dimaksud karena postur APBN tahun anggaran 2019 berbeda dengan tahun 2014-2015 yang terdampak penurunan harga komoditas.

"2014-2015 terlihat ekspor pertumbuhan negatif dan harga komoditas drop pengaruhi penerimaan negara," jelas dia.

Namun, pada 2016 terjadi momentum pemulihan sektor investasi dan ekspor yang memberikan dampak kepada pertumbuhan, sehingga target 5,3% masih realistis bisa dikejar pemerintah di 2019.

"Ekspor impor akan lebih balance, dengan impor lebih menurun dan eskpor lebih tinggi dari 2018. Menyebabkan 5,3% tahun 2019 masih realistis," tutup dia.

Berikut rincian asumsi dasar ekonomi dan pembangunan ekonomi di 2019:

- Pertumbuhan ekonomi: 5,3%
- Inflasi: 3,5%
- Nilai tukar rupiah: Rp 14.400/US$.
- Tingkat bunga SPN: 5,3%
- Tingkat pengangguran: 4,8% - 5,2%
- Angka kemiskinan 8,5% - 9,5% 
- Gini Ratio 0,038 - 0,039
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 71,98

[dtk]

Loading...
loading...