Sandi Klaim Prabowo Sudah Prediksi Rupiah Merosot Sejak 2014
logo

5 September 2018

Sandi Klaim Prabowo Sudah Prediksi Rupiah Merosot Sejak 2014

Sandi Klaim Prabowo Sudah Prediksi Rupiah Merosot Sejak 2014


GELORA.CO -  Bakal calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengklaim nilai tukar rupiah yang kian melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah diprediksi oleh Prabowo Subianto sejak 2014 silam. 

Tak hanya Rupiah, Sandi juga mengatakan Prabowo telah memprediksi perekonomian Indonesia secara umum bakal memburuk seperti saat ini.

"Ini sebuah hal yang sudah diprediksi empat tahun, 2014 yang lalu oleh beliau," ucap Sandi di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Selasa (4/9) malam.

Berdasarkan penuturan Sandi, prediksi Prabowo itu merujuk dari keuangan negara yang bocor. Selain itu, reformasi fundamental perekonomian Indonesia juga tidak dilakukan secara tepat, sehingga membuat keadaan seperti sekarang. Dia mengatakan Prabowo sudah memandang hal tersebut secara serius sejak lama.

"Karena ada kebocoran, ekonomi kita tidak terjadi reformasi struktural yang tepat. Biaya-biaya akan meningkat secara tajam," kata Sandi.

Sandi lalu mengklaim bahwa dua menteri dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo juga berpendapat yang sama. Mereka adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

"Dan kebocoran sudah diakui oleh Pak Darmin, Bu Susi juga. Itu tidak dilakukan secara fundamental," kata Sandi.

Meski begitu, Sandi tidak ingin disebut menuding pemerintah sebagai satu-satunya faktor perekonomian Indonesia memburuk. Dia mengatakan Prabowo juga tidak ingin menyalahkan salah satu pihak. 

Sandi mengaku lebih ingin membicarakan solusi terbaik dengan partai mitra koalisi. Menurutnya, hal itu lebih patut dilakukan daripada mengolah isu untuk kepentingan Pilpres 2019.

"Ini adalah kesalahan kolektif bahwa reformasi struktural mestinya dijalankan untuk menahan kebocoran. 

Sandi lalu berharap Indonesia tidak mengalami krisis ekonomi seperti medio 1997-1998 silam. Menurutnya, kala itu ekonomi Indonesia benar-benar terpuruk dan butuh waktu lama untuk menjadi stabil kembali.

"Sebagai mantan pengusaha, jangan sampai krisis lagi, Karena krisis 97-98 butuh sepuluh tahun untuk kita recovery," imbuh Sandi.

Khawatir Lapangan Pekerjaan 

Sandi lalu mengaku cemas pelemahan nilai Rupiah berdampak masif terhadap dunia kerja. Dia khawatir banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan. 

"Yang saya khawatirkan ini lebih ke lapangan pekerjaan," kata Sandi.

Dia menjelaskan bahwa melemahnya nilai Rupiah bakal membuat biaya produksi meningkat. Begitu pula dengan biaya pengadaan bahan baku.

"Nanti akan ada pengurangan atau rasionalisasi. Kita ingin itu tidak terjadi," ucap Sandi.

Dia menilai sebaiknya pemerintah menjalin komunikasi secara intensif dengan perusahaan-perusahaan terutama yang melakukan bisnis ekspor-impor. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan agar dinamika di dunia usaha terpantau dengan baik ketika Rupiah terus melemah.

Jamin Tidak Ada Kebocoran Jika Terpilih

Sandi lalu menjamin tidak ada keuangan negara yang bocor jika dirinya dan Prabowo terpilih pada Pilpres 2019 mendatang. Dia mengklaim kebocoran keuangan negara tidak akan membuat Rupiah melemah jika dirinya terpilih sebagai wakil presiden.

"Kita akan pastikan tidak ada kebocoran," kata Sandi.

Sandi memastikan perekonomian Indonesia akan berjalan secara efisien. Dia yakin dapat menciptakan banyak lapangan pekerjaan dan industri dalam negeri dapat tumbuh berkembang secara optimal.

"Kita akan pastikan juga bahwa biaya hidup tidak akan terbebani dengan naiknya dolar seperti ini," ujar Sandi.

Sandi lalu mengatakan industri pariwisata adalah salah satu segmen yang akan diperkuat. Dia mengatakan pembangunan infrastruktur juga akan dibangun seperti sekarang ini. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut akan difokuskan untuk menguatkan sektor industri pariwisata.

"Pembangunan infrastruktur itu yang harus langsung bisa berdampak terhadap lapangan kerja dan interkoneksitas sentra pariwisata," kata Sandi. [cnn]

Loading...
loading...