Paloh soal Rupiah Melemah: Oposisi Sebaiknya Diam atas Nama Demokrasi
logo

6 September 2018

Paloh soal Rupiah Melemah: Oposisi Sebaiknya Diam atas Nama Demokrasi

Paloh soal Rupiah Melemah: Oposisi Sebaiknya Diam atas Nama Demokrasi


GELORA.CO - Bakal calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno, meminta politisi untuk diam sejenak. Khususnya menyikapi lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Terkait hal tersebut, Salah satu Dewan Penasehat Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Surya Paloh, mengatakan langkah tersebut wajar. Dia menilai semua pihak memang seharusnya diam untuk terus menyalahkan pemerintah.

"Wajarlah, memang sebaiknya begitu, untuk dan atas nama demokrasi, memperbaiki yang tidak mudah. Kita mau maju bisa, kita mau mundur bisa saja. Tapi bagi siapa itu? Saya kira bagi orang yang enggak punya nurani bagi negeri ini," ucap Surya di Jakarta, Rabu (5/9).

Hal senada, juga diucapkan oleh Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding. Menurutnya baik jika tak asal bicara.

"Saya kira begini, dalam kondisi seperti ini, memang saya kira itu baik. Kita tidak asal bicara soal ekonomi, apalagi kalau tidak paham dan tidak mengerti datanya dan faktanya," jelas Karding.

Sekjen PKB ini menilai, kebersamaan antara anak bangsa memperhatikan keadaan ini yang penting. Sehingga butuh gotong royong untuk mengantisipasi.

"Ini bukan salah kita sebagai bangsa, bukan salah pemerintah. Tapi faktor utama melemahnya rupiah ke kurs dolar ini pengaruh global. Indonesia masih relatif baik, walaupun bukan berarti kita mengentengkan, tetapi harus melakukan banyak langkah ke internal maupun eksternal, termasuk masyarakat," pungkasnya.

Sebelumnya, Sandiaga meminta semua politisi baik dari pemerintah, ataupun oposisi agar dapat menahan diri untuk tidak saling mengeluarkan komentar negatif.

"Politisi kita minta politisi shut up dulu lah for the next two weeks jangan dulu mengeluarkan komentar negatif, termasuk dari pihak kita. Saya bilang tunggu, kita turunkan tensi dulu. Kita lihat ini jangan sampai kita kayak Argentina sama Turki yang sudah. Waduh sedih kalau di sana sih," tandasnya. [mdk]

Loading...
loading...