JK, Erick Thohir dan Kisah Raja Salya yang Dijebak Kurawa
logo

17 September 2018

JK, Erick Thohir dan Kisah Raja Salya yang Dijebak Kurawa

JK, Erick Thohir dan Kisah Raja Salya yang Dijebak Kurawa


Oleh Haris Rusly Moti

Prabu Salya, dia adalah raja dari kerajaan Madra. Ia dikenal sebagai pemanah hebat. Salya juga terkenal sebagai kusir kereta yang tangguh. Salya adalah kakak-nya Dewi Madri, istri kedua Pandu, Maharaja Hastinapura.

Dari istri pertamanya Dewi Kunti, Pandu dianugerahi tiga orang anak, Yudhistira, Bhima dan Arjuna. Sementara Nakula dan Sadewa adalah anak kembarnya Pandu dari istri keduanya, Dewi Madri. 

Dalam versi pewayangan Jawa, Salya sering disebut sebagai raja Salyapati. Kerajaan yang dipimpinnya disebut Mandaraka. Secara garis besar, kisah raja Salya yang ditulis di dalam wiracarita Mahabarata tidak jauh berbeda dengan lakon pewayangan Jawa.

Prabu Salya sangat menyayangi kedua keponakannya, Nakula dan Sadewa. Pada sebuah kesempatan, dengan ekspresi haru, Prabu Salya menyampaikan perasaannya itu kepada kedua keponakannya. “Aku ini sangat menyayangi kalian berdua. Setiap melihat kalian berdua, aku selalu teringat akan Madrim adikku yang telah wafat saat melahirkan kalian”.

Demikian juga dengan Nakula dan Sadewa, mereka berdua juga sangat menyayangi Prabu Salya. Baginya, pamannya itu adalah satu-satunya keluarganya yang masih tersisa. Ayah dan Ibu mereka, Pandu dan Dewi Madrim, telah lama wafat. Sepeninggal Ayah dan Ibu mereka, sejak bayi mereka berdua dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dewi Kunti, bersama ketiga putra Kunti, Yudisthira, Bhima dan Arjuna.

Saking sayangnya kepada kedua keponakannya, Salya juga menyampaikan amanah kepada Sre Kresna, “jika bharatayudha memang benar-benar meledak, aku ingin menitipkan suatu hal, tolong jaga kedua keponakanku, Nakula dan Sadewa”, ujar Salya. Mendengar permintaan Salya itu, Kresna pun menyanggupinya.

Alkisah, sebelum berkecamuk bharatayudha, berlangsung perang senyap, adu siasat, adu kecerdikan. Bahkan adu kelicikan antara dua sosok dalang yang tersohor. Sengkuni yang menjadi dalang  dan "pengompor" di pihak Kurawa. Begitu juga Sre Kresna, dia bertindak sebagai mentor dan dalang di pihak Pandawa.

Sengkuni adalah kakaknya Dewi Gandari, pamannya para pangeran Kurawa. Sengkuni terkenal sangat licik, culas dan bengis. Walaupun demikian, selalu saja kalah langkah dari Sre Kresna. Setiap langkahnya selalu berhasil diendus dan didahului dengan kecerdikan Sre Kresna.

“Ponakan-ku Duryodhono, kecerdikan dan kelicikan pamanmu ini adalah yang terhebat di seluruh tanah Arya. Namun, Sre Kresna, dia jauh lebih cerdik, dia sangat lihai. Penciumannya sangat tajam, penglihatannya sangat jauh melampaui ruang dan waktu. Setiap langkah kita selalu berhasil diendus, diserobot dan dipatahkan. Bahkan tanpa kita sadari, Kresna sering sekali menunggangi skenario kita untuk memuluskan rencana para Pandawa”, ujar Sengkuni.

Prabu Salya Dijebak

Mendengar baratayudha akan segera berkecamuk, Prabu Salya segera mengkonsolidasi bala tentaranya untuk bergabung dengan pihak Pandawa. Prabu Salya sangat membenci pihak Kurawa yang sangat serakah, licik dan bengis. Kedua ponakannya, Nakula dan Sadewa, beserta ketiga saudaranya, Yudhistira, Bhima dan Arjuna, berulangkali mendapat perlakuan tidak adil, dianiaya oleh pihak Kurawa.

Berita keberangkatan Prabu Salya yang memimpin bala tentaranya sampai juga ke telinga Sengkuni dan Duryodhono. Sengkuni bersama ponakannya lalu mengatur siasat jahat untuk menjebak dan menyandera Prabu Salya dan bala tentaranya agar bergabung dengan pasukan Kurawa.

Sebetulnya, Sre Kresna telah mengendus rencana jahat Sengkuni tersebut. Namun, Kresna sengaja tidak mencegahnya. Kresna justru menunggangi skenario Sengkuni tersebut untuk maksud lain. Kelak, ketika berlangsung baratayudha, Prabu Salya ditugaskan untuk menjadi kusir nya Adipati Karna, musuh bebuyutannya Arjuna.

Meskipun ia berada di pihak Kurawa, namun sebenarnya Prabu Salya memihak dan mendoakan kemenangan bagi Pandawa. Pada saat Adipati Karna bersiap melepas panah ke arah Arjuna, seketika itu Prabu Salya sengaja menghentakkan kakinya hingga kereta yang ditumpangi Karna amblas masuk ke dalam lumpur. Akibatnya, anak panah yang dilepaskan Karna pun meleset, hanya mengenai mahkotanya Arjuna.

Ketika Adipati Karna turun dari kereta untuk memperbaiki rodanya yang masuk ke dalam lumpur. Arjuna tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Kata pepatah, “momentum tak akan datang untuk kedua kalinya”. Panah pasopatinya Arjuna kemudian langsung melesat dan memenggal kepalanya Karna.

Kembali kepada kisah Prabu Salya yang dijebak untuk berada di pihak Kurawa. Duryodhono dan Sengkuni yang yang menanti kedatangan Prabu Salya, dengan sangat licik dan culas kemudian memerintahkan sejumlah perwiranya untuk menyambut Prabu Salya dan bala tentaranya.

Ratusan tempat peristirahatan dengan hiasan yang mewah sengaja dibangun di sepanjang jalan yang akan dilalui bala tentara Prabu Salya. Di tempat peristirahatan, mereka juga dijamu dengan aneka macam makanan dan minuman yang berlimpah. Mereka juga dihibur dengan berbagai pertunjukkan kesenian yang sangat menyenangkan. Prabu Salya yang polos dan lugu itu mengira semua fasilitas dan acara penyambutan itu diatur oleh Yudhistira dari pihak Pandawa.

Karena merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, Salya lalu memanggil pelayan yang kebetulan ada di tempat itu. Dengan lugu dan polos Salya mengatakan kepada pelayan itu: “Aku ingin memberi hadiah kepadamu dan kepada siapa saja yang telah menyambutku dan pasukanku dengan penuh cinta dan perhatian. Sampaikan kepada Putra Kunti, aku sangat berterima kasih atas penyambutan ini”.

Duryodhono yang sedang menunggu kesempatan yang baik, segera menemui Prabu Salya. Di hadapan Prabu Salya, Duryodhono mengatakan bahwa ia merasa sangat terhormat menyambut dan melayani Prabu Salya dan bala tentaranya. Keramahan dan kebaikan Duryodhono sangat mengesankan. Salya tidak menaruh curiga pada akal bulus di balik kebaikan dan keramahan itu. 

Larut, terbuai dan terhipnotis dengan sambutan yang luar biasa itu, Salya lalu berkata: “Betapa luhur dan mulia hatimu. Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu ini”. Duryodhono lalu mengatakan kepada Salya, “sebaiknya kau dan bala tentaramu bertempur di pihak kami, Kurawa. Itulah yang kuharapkan sebagai balas budimu atas kebaikanku kepadamu”.

Prabu Salya terkejut, dan akhirnya menyadari jika dirinya telah dijebak. Namun sebagai kesatria, Salya tak akan mengingkari janjinya yang telah diucapkannya. Salya secara terpaksa berada di pihak Kurawa, sebagai balas budi atas kebaikan Duryodhono. Sekalipun demikian, isi hatinya Prabu Salya tidak bisa dibohongi. Kepada ponakannya Nakula dan Sadewa, dia menyampaikan akan mendoakan kemenangan bagi pihak Pandawa.

JK dan Eric Thohir Disandera

Kisah Prabu Salya dijebak oleh pihak Kurawa di atas mengingatkan kita pada perang siasat menjelang Pilpres 2019. Siasat yang licik dan culas model Kurawa kembali dipraktekan untuk menjebak setiap figur yang berpotensi berseberangan dengan pihak penguasa.

Bahkan adu domba antar umat beragama maupun inter umat beragama kembali dipraktekan. Siasat “kampungan” yang membenturkan antara sahabat juga diperagakan. Demikian juga adu domba antara saudara kembali dipertontonkan. Politik devide et impera yang dipakai di zaman kolonial, kembali dipakai oleh pihak penguasa.

Siasat menjebak dan menyandera kawan dan lawan juga dipraktekan. Jusuf Kalla misalnya sejak awal mengatakan di sejumlah media massa untuk tidak terlibat di dalam tim sukses di kedua kubu, ingin netral saja. Namun, dengan dibongkarnya kurupsi di PLN, diduga menjebak dan menyandera JK untuk terpaksa ikut bergabung di dalam tim kampanye nasional.

Demikian juga nasib Erick Thohir, sahabat karib Sandiaga Uno. Erick dan Sandi sudah seperti saudara. Erick berbeda dengan Sandiaga yang pernah terjun di dalam medan sosial politik. Erick adalah seorang profesional murni yang tak mengerti seluk beluk dunia silat lidah.

Sementara Sandiaga sendiri berpengalaman dalam dunia sosial politik. Sandi pernah menjadi Ketua Umum HIPMI, lalu terjun di dalam politik praktis menjadi Waketum Dewan Pembina Gerindra. Hingga akhirnya bersama Anies terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI. Melalui pernyataan yang disampaikan oleh Sandiaga, Erick katanya dilematis untuk menjadi Ketua Tim Kampanye Nasional. Erick tak kuasa menolak perintah.

Narib Erick persis seperti Prabu Salya yang disandera untuk dibenturkan dengan dengan kedua keponakannnya. Erick juga diduga sengaja dipasang sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional untuk dibenturkan dengan sahabatnya yang telah ditetapkan jadi Cawapresnya Prabowo, Sandiaga Uno.

Sebagaimana JK, Erick Thohir sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) juga diduga disandera dengan isu korupsi dana sosialisasi dan promosi Asian Games tahun 2017 yang sedang ditangani oleh pihak penegak hukum. Dari kasus ini, tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Kemudian rumor dihembuskan bahwa Erick akan segera diperiksa oleh penegak hukum, walaupun kemudian diralat.

Sebagaimana Prabu Salya yang dijebak, juga Senopati Bisma yang terjebak dengan sumpahnya. Mereka memang secara fisik tersandera berada di pihak Kurawa. Namun, di dalam hatinya terdalam, mereka tetap mendoakan kemenangan bagi pihak Pandawa.

Demikian juga dengan Prabu Erick Thohir, Prabu JK dan sejumlah prabu lainnya yang disandera berada di pihak penguasa. Rasanya mereka juga mendoakan kekalahan dan kehancuran bagi pihak penguasa yang serakah, licik, culas dan bengis. Eling, gusti Allah ora sare!!.[tsc]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...