logo

22 September 2018

HMI Bengkulu: Kader Kami Ditembak, RS dan Polisi Bungkam

HMI Bengkulu: Kader Kami Ditembak, RS dan Polisi Bungkam


GELORA.CO - Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bengkulu Abdul Aziz mengungkapkan kader HMI korban luka atas tembakan aparat saat melakukan aksi di gedung DPRD Provinsi Bengkulu sudah selesai menjalani operasi.

Namun yang menjadi kejanggalan, imbuh Aziz, pihak kepolisian dan Rumah Sakit M Yunus Bengkulu mencoba menutupi dan merekayasa hasil medis korban kader HMI bernama Ahmad Deka tersebut.

"Pihak rumah sakit dan polisi tidak mau membuka hasil rekam medis usai operasi. Mereka berdalih itu bukan luka tembakan, hanya luka terjatuh," ungkap Aziz kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/9).

Aziz menegaskan ia sudah melihat hasil rontgen Ahmad Deka yang merupakan mahasiswa Universitas Hazairin Bengkulu itu. Dari gambar rontgen terlihat jelas jika tulang di wilayah betis korban mengalami keretakan.

Korban dan teman-teman aksi juga bersaksi bahwa Ahmad Deka memang sengaja disasar aparat melalui tembakan, antara menggunakan peluru tajam atau peluru gas air mata.

"Indikasi kuatnya ya antara peluru tajam atau gas air mata. Tapi apapun itu, polisi telah menyalahi standar operasi pengamanan demonstrasi karena sasar tembak langsung," tegas Aziz yang saat ini menjabat sebagai Ketua PB HMI bidang politik.

Pihak rumah sakit sudah menyimpulkan korban tidak akan bisa berjalan normal selama satu bulan akibat luka retak di tulang betis. Aziz mencurigai, pihak rumah sakit sudah ditekan oleh jajaran kepolisian Bengkulu, khususnya Kapolda Bengkulu.

Alih-alih meminta maaf, kata Aziz, jajaran Polda Bengkulu saat ini justru menebar teror kepada kader HMI dan mahasiswa yang ikut aksi dengan tujuan agar kasus ini tidak diperpanjang dan tidak jadi melapor ke Komnas HAM. Teror itu bentuknya bermacam, mulai dari pesan singkat dan telepon gelap, hingga ada ancaman fisik.

"Untuk itu kami menuntut Kapolda Bengkulu segera dicopot. Ini sudah di luar batas, mahasiswa diperlakukan tidak manusiawi," ungkapnya.

Perlakuan di luar batas dan tidak manusiawi itu juga terlihat saat aparat membawa anjing pelacak untuk memburu beberapa peserta unjuk rasa. Aziz mengungkapkan total korban mahasiswa mencapai lima orang, namun memang Ahmad Deka yang paling parah.

Tak hanya, itu pihaknya belakangan juga menemukan fakta baru jika aksi kebrutalan polisi memakan korban anak-anak SD yang sekolahnya terkena sasaran gas air mata.

"Jadi ada sekolah SD di belakang masjid di dekat gedung DPRD yang kena sasaran gas air mata. Ada anak yang jadi korban, kita lagi kumpulkan buktinya," tuturnya.

Saat ini, pihaknya sedang mengumpulkan bukti-bukti lain untuk menuntut aparat khususnya Polda Bengkulu. Walau dibawah ancaman teror, pihaknya tetap akan membawa kasus ini ke Komnas HAM. Sejauh ini sudah ada belasan advokat yang juga siap mengawal kasus hukum kekerasan aparat terhadap mahasiswa.

Sementara itu, kader cabang HMI di seluruh Indonesia sudah bersiap untuk turun ke jalan di daerah masing-masing sebagai aksi solidaritas dan melawan tindakan aparat yang semakin represif.

"Aksi ke depan akan semakin solid dan besar," pungkasnya.

Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) menyatakan pengamanan unjuk rasa di Medan, Sumatera Utara dan Bengkulu sudah sesuai standar pelayanan operasional prosedur (SOP) kepolisian. Diketahui unjuk rasa di dua tempat itu berakhir ricuh.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan proses pengamanan dilakukan melalui sejumlah tahapan yakni negosiasi hingga pengendalian massa.

"Dua kejadian tersebut sudah saya tanyakan ke Polda Bengkulu dan Sumatera Utara. Prinsipnya, polda dan polres setempat sudah melaksanakan SOP pengamanan unjuk rasa," kata Dedi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (21/9).

Unjuk rasa mahasiswa dari kelompok Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bengkulu juga berakhir ricuh dan melahirkan sejumlah korban luka, baik dari kalangan demonstran dan polisi, Selasa (18/9).

Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Siti Zuhro mengecam dan mengutuk keras aksi kekerasan aparat kepolisian dalam demonstrasi yang dilakukan oleh HMI cabang Bengkulu.

Dia meminta aparat kepolisian meminta maaf atas tindak kekerasan yang telah dilakukan.

"KAHMI mengutuk keras, yang dilakukan Aparat Kepolisian di luar batas prosedur yang semestinya," kata Siti Zuhro lewat keterangan tertulis, Rabu (19/8). [cnn]

Loading...
loading...