logo

21 Agustus 2018

Surat Terbuka untuk Jokowi dari Lombok

Surat Terbuka untuk Jokowi dari Lombok


Penulis: Yusran Hadi

Tuan, pertanyaannya adalah, sampai kapan kami bisa bertahan jika gempa ini tak henti susul menyusul. Lalu bagaimana jika hujan tiba? Tenda pengungsian yang sangat tidak layak karna terbuat dari selembar terpal tanpa fasilitas MCK tentu akan sangat rentan kebocoran dan wabah penyakit. Hitungan dua minggu ini saja anak-anak dan balita telah mulai terserang penyakit.

Tuan, sampai kapan nama baik lebih penting daripada kemanusiaan? Apa tidak ada lagi masa dpan bagi #Lombok nanti jika bencana ini naik level menjadi #bencananasional? Sedemikian rapuhkah sebuah harapan hingga harus terus ditegakkan sambil mmbiarkan nasib pengungsi yg sduah rentan ini diremukkan dalam ketidakjelasan?

Tuan, Oh Tuan,… Kemarin saat pertama gempa melanda di Bayan semua tenaga dan perhatian kesan diarahkan, lalu saat kemudian gempa berpindah ke lain tujuan Bayan pun ditinggalkan.

Tuan, kini Tanjung pun sepi. Hanya tersisa satu kompi tentara untuk membantu kami, semua telah dikerahkan ke Sambelia dan Sembalun yg semalam diguncang pula dengan dahsyatnya. Pun tenaga relawan dan yang lainnya, semua terfokus pada satu titik dan yg lain ditinggalkan.

Oh Tuan, hati kami kian rentan. Rentan pada kepercayaan bahwa ini akan terselesaikan dengan banyak janji bantuan yang belum juga terealisasikan…

Nasib kami ini Tuan, di tanganmu yang kemudian kau lempar di meja pertaruhan. Remuk redam.

Ah Iya, Tuan… Kami pun masih pula dibingungkan dengan kabar yg berseliweran, bahwa Lombok akan diguncang lagi dengan kekuatan yg lebih besar. #BMKG, kami tak mau percaya kabar bohong, tapi kami pun tak bisa mempercayai kabar yang tak ‘jujur’ mengatakan kebenaran.

Jika memang ada kemungkinan, dengan melepas gengsi harusnya kami diberitahu saja agar kami bisa menyiapkan diri. Setidaknya beritahu kami, bukit mana yang bisa ditempati sebagi tujuan evakuasi. Begitu banyak bukit disini, tapi kami tak tahu mana yang cukup kuat menahan longsoran.

Tuan, oh Tuan… Aku ingat di Aceh sana, ketika bencana serupa meluluhlantakkan, dan lalu diumumkan sebagai #bencananasional, hanya dalam waktu seminggu saja rumah-rumah papan sudah didirikan.. Betapa cepat dan segeranya harapan dan kepercayaan diselamatkan.

Disini, kami menunggu tuan..

Menunggu tuan berbaik hati,

Atau menunggu hati kami tak bisa dibaiki lagi. [portalislam]

Loading...
loading...