logo

20 Agustus 2018

Jokowi Pencitraan Terus, Karena Citranya Makin Buruk?

Jokowi Pencitraan Terus, Karena Citranya Makin Buruk?


Oleh: Pradipa Yoedhanegara*

Tampilnya video Presiden RI Joko Widodo mengendarai sepeda motor yang tayang jelang upacara pembukaan Asian Games 2018 pada hari Sabtu (18/8/2018) di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, jujur saja membuat perut saya sedikit sakit dan mulas karena banyak menahan tawa.

Aksi berkendara motor sepanjang perjalanan menuju gelora bung. Karno yang belakangan diketahui dilakukan oleh seorang stuntman (pemeran pengganti) asal thailand yang menunjukan atraksi “jumping dan stoppie” bak pemain sirkus ini, mungkin untuk sebagian orang sangat menghibur.

Aksi yang awalnya “mungkin”, dibuat untuk meningkatkan pencitraan tuan presiden ini, sepertinya gagal, karena tidak begitu efektif dan tidak berhasil pencitraannya. Malahan aksi freestyler yang dilakukan oleh stuntman Presiden Jokowi malah semakin menurunkan citra tuan Jokowi, sebagai presiden di hadapan publik saat ini.

Kemeriahan dan gegap gempita pembukaan acara Asian Games saat ini, yang menghamburkan uang rakyat ratusan milyar rupiah, tampaknya kurang elok dilakukan. Sebab bangsa ini baru saja mengalami bencana kelaparan, akibat krisis pangan di pedalaman hutan seram maluku, kabupaten maluku tengah dan Gempa Bumi yang memakan banyak korban jiwa di Lombok Nusa Tenggara Barat.

Dari sisi ini saya melihat tuan Presiden, tampaknya tidak memiliki “Sense Of Crisis”, atau kepekaan yang dalam atas tragedi memilukan yang dialami publik dinegari ini. Meski bencana yang terjadi di sejumlah daerah tersebut bukan masuk kategori bencana nasional, tetap saja itu menjadi catatan buruk bahwa rezim ini sama sekali tidak memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat.

Selain tidak adanya sense of crisis dari tuan presiden, beberapa waktu yang lalu beredar sebuah video adanya korban gempa yang diberikan bantuan makanan ternak oleh pendukung tuan presiden. Dari situ saja terkesan kalau tuan presiden dan pendukungnya lebih memprioritaskan korban hewan kelaparan ketimbang jatuhnya korban jiwa manusia.

Kalau benar apa yang di ceritakan dalam video itu dan tidak adanya bantahan dari Tuan Presiden dan Para Relawan Tuan Presiden? Itu sama artinya tuan sedang mentertawakan nasib korban tragedi gempa di lombok sana. Atau memang sengaja melakukan hal hal pembiaran tersebut untuk tujuan pencitraan jilid dua di masa pencapresan nanti.

Kembali ke video freestyler Presiden di acara opening seremony asian games, Presiden tampak terlihat bahagia dengan adanya stuntman (peran pengganti). Hal tersebut bisa bermakna kalau selama ini *”Peran Penggantilah”*, yang paling berperan dalam pemerintahan saat ini, dan bukan peran presiden jokowi yang paling punya pengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai sesama anak bangsa saya hanya bisa memberi nasihat, kepada yang mulia Tuan Presiden agar tidak *”Over Dosis Pencitraan”*, karena rakyat sudah jenuh dan dalam kondisi yang lemah akibat banyak kebijakan Tuan Presiden yang jauh dari pesan kerakyatan, karena lebih pro kepada kelompok Neolib.

Sebaiknya Presiden Jokowi membuat program yang real di sisa akhir masa jabatan ini, bukan terus menerus melakukan pencitraan yang hanya menjadi bahan tertawaan publik. Politik pencitraan sudah gak zaman diera rovulusi digital, karena rakyat tercerdaskan oleh sosial media, dan mencerdaskan kehidupan berbangsa serta bernegara selayaknya menjadi tugas negara bukan tugas sosial media.

Mungkin saat atraksi freestyler Tuan Presiden Jokowi berlangsung, ada masukan dari tim kampanye yang ingin mainset rakyat menganggap Tuan Presiden itu kekinian dan dianggap Capres Milenial?! Kalau itu cara berfikir orang disekitar Tuan Presiden, tentu sangat prematur. Karena hari ini rakyat akan memilih Capres yang tidak Over Dosis Pencitraan karena sudah kapok dengan tragedi pilpres 2014 yang lalu.

Sebagai pesan penutup, sebaiknya tuan presiden melempar ide dan gagasan mengenai tantangan NKRI diera milenial, ketimbang melakukan pencitraan yang masif dan miskin ide serta gagasan. Sebab dengan adanya ide dan gagasan tentang negara, tuan presiden tidak perlu lagi melempar-lempar hadiah dari dalam mobil untuk mengambil hati rakyat. [swa]

*Penulis adalah Pengamat Sosial dan Politik

Loading...
loading...