logo

9 Agustus 2018

Ara dan Mahfud: Setali Nasib yang Terulang

Ara dan Mahfud: Setali Nasib yang Terulang


Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Sekitar empat tahun silam saat Jokowi akan menyusun kabinet persaingan politik saat riuh. Berbagai nama dijadikan calon menteri oleh berbagai sosok.

Yang paling heboh, pada saat terakhir sudah ada sosok calon menteri yang sowan ke Istana Negara. Banyak di antara mereka sudah datang dengan pakaian putih sebagai ciri orang yang akan ditunjuk menjadi anggota kabinet.

Yang paling unik, salah satu orang yang sudah 'hampir' pasti digadang jadi menteri adalah Mauarar Sirait. Sebagai anak muda, Ara (panggilan akrab Maurar Sirait) pintar, muda, dan keren. Khalayak pun terlanjur menganggap Ara pas jadi menteri.

Dan seolah 'kotak menemui tutupnya' (tumbu ketemu tutup, bahasa Jawa red) reaksi Jokowi yang saat itu baru saja diumumkan menjadi pemenang pemilu 2015 pun sambung. Ara pun sudah dipanggil dan datang ke Istana.

Pada detik terakhir Ara sudah ada di istana dan sudah mengenakan baju putih. Semua yakin anak lelaki putra politisi kawasan Sabam Sirait akan menduduki salah satu jadi anggota kabinet Jokowi.

Tapi celakanya, nasib Ara berkata lain. Entah mengapa Ara yang ada di dalam Istana, berbaju putih, dan siap menjadi menteri kala itu muncul pemandangan baru.

Tiba-tiba mendadak Presiden Joko Widodo keluar dari kompleks Istana Kepresidenan dengan berjalan kaki. Para wartawan yang sudah merubung Istana untuk mengikuti pelantikan menteri sempat tak 'ngeh'.

Mereka baru sadar sesaat kemudian dengan menerima kenyataan Ara urung jadi menteri. Jokowi rupanya mengantar politikus muda PDI Perjuangan ini ke dalam mobilnya untuk pulang.

Dari berbagai laporan media saat itu, Ara memang sudah mengenakan seragam putih. Pakaian itu sudah sama dengan calon menteri yang baru saja diumumkan oleh Jokowi di halaman Istana Merdeka, Jakarta Minggu 26 Oktober 2014.

Saat itu Jokowi tampak grogi. Dia tidak jelas menjawab ketika wartawan ditanya mengenai isu yang beredar bahwa Ara batal menjadi menteri Jokowi. Padahal, di beberapa daftar yang beredar di kalangan wartawan sebelum Jokowi mengumumkan, Ara digadang-gadang menjadi Menkominfo.

Bukan hanya itu, setelah acara itu di kalangan wartawan bersliweran kabar Maruarar protes keras karena namanya yang disebut-sebut sebagai Menkominfo dicoret.

"Siapa? Tau aja. Senengnya naroh nama-nama, di sini, di sini," kata Jokowi saat itu. Yang jelas, lanjut kata Jokowi, Ara akan tetap membantunya dalam melaksanakan tugas kepresidenan, meski dia tidak menjabat sebagai menteri. "Yang jelas Ara akan terus bantu saya," kata Jokowi.

Wartawan tak puas dengan jawaban Presiden Jokowi. Mereka memburu presiden dengan pertanyaan berikutnya. Sejenak, Jokowi tampak kebingungan ketika ditanya mengenai posisi Ara jika membantu dirinya di pemerintahan. "Kawan baik. Kan banyak kementerian yang perlu saya tatar," kata dia.

Tak puas dengan jawaban Jokowi, wartawan pun terus bertanya alasan Ara gagal menjadi calon menteri. "Kata siapa?," kata Jokowi.

Jokowi juga tampak bingung ketika wartawan bertanya alasan Ara menggunakan baju yang sama dengan calon menteri yang lain. Dia lalu meminta Ara untuk menjelaskannya sendiri. "Saya kan fansnya Jokowi," kata Ara kala itu.

Namun, ketika Ara bicara, Jokowi meminta awak media tidak menanyakan kegagalannya menjadi menteri. "Jangan gitulah," kata Jokowi.

Namun, Ara tetap melanjutkan pernyataannya. "Kita yakin Indonesia lebih baik di bawah Jokowi. Kan kabinetnya banyak profesional," ujar Ara.

Usai diwawancara, Jokowi kemudian mengantar Ara untuk naik ke mobilnya. Bahkan, Jokowi belum beranjak pergi ketika mobil Ara melaju. Setelah mobil Ara terlihat melaju kencang, barulah Jokowi kembali masuk ke Wisma Negara.

Jadi itulah yang dahulu terjadi pada sosok Ara. Uniknya kini menimpa Mahfud MD. Dalam detik-detik terakhir pakar tata negara, mantan ketua Mahkamah Konstitusi, mantan menteri pertahanan, dan anggota Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP), Mahfud MD, urung jadi cawapres Jokowi.

Sama dengan Ara, cerita Mahfud pun juga sebangun. Semenjak pagi sebelum pengumuman cawapres Jokowi, Mahfud sudah yakin jadi cawapres. Surat keterangan tidak pernah terlibat dari pidana dari Pengadilan Negeri Sleman sudah didapatkan. Dia sudah mengatakan ke publik bahwa dia mendapat panggilan sejarah. Di media sosial namanya pun berkibar-kibar. Nama Mahfud bisa dikatakan 99 persen sudah pasti menjadi cawapres Jokowi.

Yang paing hebat, nama Mahfud tetap firm ketika semua anggota koalisi kemarin sore datang untuk rapat bersama untuk mengumumkan calon cawapres Jokowi. Publik pun sudah yakin Mahhud MD adalah orang yang terpilih. Hanya sedikit sekali yang pesimis bila gagal jadi cawapres.

Namun, sama dengan Ara, Mahfud terpental dari pencalonan. Tapi sebenarnya tanda-tanda ini sudah terlihat yakni pada saat yang sama ada laporan dari para reporter lapangan bahwa hasil Muswil PKB yang Kamis sore lalu (9/8) menyatakan partai pimpinan Muhaimin Iskandar masih terbuka untuk membuka opsi lain soal pencalonan wakil presiden Jokowi.

Bukan hanya itu, hasil Muswil ini juga mengisyaratkan akan membuat poros ketiga dengan menggandeng pasangan Gatot-Muhaimin Iskandar. Salah satu hasilnya adalah menduetkan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019.

Bagi banyak orang, poros ketiga ini masuk akal selain untuk memecah kebekuan juga menjadi penghalang nyata bagi Jokowi bila nekad mencalonkan Mahfud. Apalagi sebelumnya sempat ada pernyataan dari petinggi PB NU: bila Jokowi memilih Mahfud, PBNU akan wabillahiatufik wal hidayah. Ini berarti PB NU meninggalkan Jokowi. Ini bagi koalisi capres Jokowi jelas hal sangat menakutkan.

Bukan hanya itu, pada sore yang sama, Ketua DPP PKB Ida Fauziah mengeluarkan sebuah kuncian yang memupus pencalonan Mahfud. Dia secara jelas mengatakan, ada tiga opsi hasil musyawarah DPW se-Indonesia di DPP PKB, Kamis (9/8). Ketiga opsi tersebut yang cukup kuat ialah Muhaimin Iskandar mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019. Kemudian, Cak Imin mendampingi Gatot Nurmantyo serta opsi menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi menentukan cawapresnya.

Akhirnya, rupanya Mahfud bernasib benar-benar belum beruntung. Panggilan sejarahnya tercampak di akhir tikungan. Nama dia tercoret jadi cawapres dalam siaran 'breaking news' di televisi beberapa saat sebelum Jokowi secara resmi mengumumkan pencalonannya di Pilpres 2019.

Entah bisa dipahami dan tidak, nasib sosok yang bagi sebagian kalangan PB NU dikategorikan sebagai NU kultural tetap mengenaskan. Dia menjadi makanan dari berbagai sebab mengenai kepentingan politik. Sama dengan Ara yang dulu banyak dianggap sebagai kader politik kos-kosan.

Apa yang akan dipertaruhkan bila Mahfud menjadi cawapres dan mungkin jadi Capres? Jawabnya, jelas dipercaya ada pertaruhan politik yang besar. Politik terkait posisi NU dan PKB. Lebih detailnya, bisa dijelaskan. Dan di sini membuktikan Muhaimin Iskandar adalah politisi kelas satu alias jempolan! [rol]

Loading...
loading...