logo

16 Juli 2018

Selain Zohri, Simak Kisah Deretan Atlet Menuju Asean Games, Ditipu hingga Ngutang untuk Beli Sepatu

Selain Zohri, Simak Kisah Deretan Atlet Menuju Asean Games, Ditipu hingga Ngutang untuk Beli Sepatu


GELORA.CO - Nama Lalu Muhammad Zohri menjadi perbincangan publik setelah dirinya pertama kali membawa nama Indonesia untuk menjuarai ajang IAAF cabang lari 100 meter.

Kisah hidup Zohri pun menjadi sorotan setelah rumahnya di Nusa Tenggara Barat yang dinilai kurang layak.

Zohri pun akan menghadapi laga tak kalah bergengsi di negeri sendiri yakni ajang Asian Games 2018.

Selain Zohri, beberapa atlet Asean Games 2018 ini pun juga memiliki banyak kisah dibaliknya.

Simak kisah-kisah atlet Asian Games mulai ditipu ayahnya hingga berutang untuk membeli sepatu seharga Rp 100 ribu.

Prima Wisnu Wardhana

Atlet panahan ini sebelumnya berhasil menyumbang emas kedua bagi Indonesia di ajang SEA Games Malaysia 2017 dari cabang panahan nomor compund individu putra.

Dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, Arya, ayah Prima, sepulang dari pelatnas, putranya sempat terpukul melihat ibunya mengalami sakit tulang kaki kiri hingga tidak bisa berjalan.

Sebab, selama ini Prima sangat dekat dengan sang ibu.

"Prima ini kan sangat dekat dengan ibunya, pas pulang pelatnas itu dia terpukul mengetahui ibunya sakit," ucapnya.

Bahkan sebelum Prima berangkat ke SEA Games Malaysia, kondisi kesehatan sang ibu menurun, sehingga harus dilarikan kerumah sakit.

Arya pun mencoba membesarkan hati putranya agar tetap berangkat.

Sebab ia tahu putranya ini sangat dekat dengan ibunya, sehingga tidak ingin Prima bimbang untuk berangkat membela bangsa dan negara.

"Saya bilang ke Prima, biar pun mamah sakit, jangan kamu pikirkan karena ada papa yang menjaga. Kamu harus berangkat, fokus berjuang untuk negara dan bangsa," tegasnya.

Melalui sambungan telepon, Prima sering bertanya mengenai perkembangan kondisi ibunya di rumah sakit.

Sang ayah terpaksa harus berbohong kepada Prima dengan menyampaikan bahwa kondisi ibunya sudah membaik.

"Saya berbohong ketika Prima tanya kondisi mamanya, sebenarnya saat itu kondisinya belum membaik. Biar Prima fokus berjuang, mamanya ada saya dan keluarga yang menjaga," katanya.

Prima sempat ingin berbicara langsung dengan ibunya.

Namun sang ayah terpaksa harus memutus sambungan telepon.

Bahkan Arya juga mencabut kartu simdi ponsel istrinya agar tidak bisa ditelepon.

Saddil Ramdani

Pesepakbola Timnas U-19, Saddil Ramdani juga telah mencicipi ajang SEA Games di Malaysia 2017.

Saddil pun juga dipersiapkan untuk Asean Games 2018.

Pemain 19 tahun ini pun juga memiliki kisah haru menuju ajang Asian Games.

Ia nyaris putus sekolah karena tidak memiliki biaya.

Ibunya pun berutang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ia juga sempat berjualan jambu semi membeli sepatu bola seharga Rp 100 ribu.

Saddil pun juga pernah mendapat bully netizen setelah mendapatkan kartu merah diakhir pertandingan saat melawan Thailand tahun 2017.

Pada akhir babak pertama, Saddil Ramdani terprovokasi setelah mendapatkan tendangan dari lutut salah satu pemain Thailand.

Lutut pemain Thailand itu menohok punggung Saddil dengan keras, refleks ia langsung menyikut pemain Thailand tersebut.

Tak lama kemudian pemain Thailand itu terkapar, dan Saddil Ramdani mendapatkan kartu merah.

Sontak, Saddil pun menerima hujan bully dari netizen.

Namanya bahkan mejadi trending topic di Twitter.

Apriyani Rahayu

Pemain ganda putri ini akan mengikuti ajang Asian Games berpasangan dengan Greysia Polii.

Namun, di balik kesuksesan wanita berambut pendek ini ada kabar duka yang harus ia korbankan saat ia bertanding.

Tepatnya saat Ani (panggilan Apriyani Rahayu) sedang mengikuti kejuaraan dunia junior di Lima, Peru.

Saat itu, ibunya dikabarkan meninggal dunia.

Namun, Ani tidak bisa pulang dan ia hanya bisa mengunjungi makam ibunya setelah tujuh hari kepulangannya.

Lilyana Natsir

Pasangan Nova Widyanto pada ganda campuran bulutangkis ini sudah memulai karir bulutangkis sejak tahun 1997.

Perempuan kelahiran Manado, 9 September 1985 itu memulai karir ketika ia masih berusia 12 tahun.

Ia bahkan memutuskan pindah ke Jakarta untuk mendalami bulutangkis, dan PB Tangkas di Jakarta menerimanya.

Selang tiga tahun, Butet, panggilan akrab Lilyana, masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Cipayung, Jakarta Timur.

Sejak memutuskan pindah dari Manado ke Jakarta, ia yakin bulutangkis adalah jalan hidupnya.

Ia pun memutuskan keluar dari sekolah di usia 12 tahun.

Sejak 1997 pula, ia yang mengaku tidak pernah jauh dari orangtua harus belajar hidup mandiri di asrama klub bulutangkis di Jakarta itu.

Liliyana mengaku pernah ingin pulang kembali ke Manado.

Namun, ibunya menasihatinya untuk terus menekuni bulutangkis di Ibukota.

Hari-hari berat penuh latihan juga terus dilakoni agar bakat dan kemampuannya semakin terasah.[tribun]

Loading...
loading...