logo

21 Juli 2018

Mendag Sebut Harga Telur Naik karena Piala Dunia 2018, Indonesia jadi Sorotan Media Asing

Mendag Sebut Harga Telur Naik karena Piala Dunia 2018, Indonesia jadi Sorotan Media Asing


GELORA.CO - Harga telur di Indonesia mencapai level tertinggi di bulan Juli 2018.

Dikutip dari Tribunnews, Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan ada sejumlah faktor yang mempengaruhi harga kenaikan telur ini.

Termasuk, sejumlah momen yang bebarengan, seperti hari raya, libur panjang, dan sepak bola disebut mempengaruhi tingginya harga telur menyentuh Rp 29 ribu per kilo di Jakarta.

Seperti yang diketahui, pada bulan Juni hingga Juli memang digelar pesta besar sepak bola di dunia, Piala Dunia 2018.

"Baik dari sisi liburan, sampai sepak bola. Karena yang tengah malam itu nasi goreng pakai telur kemudian internet, indomie telur, dan kornet itu juga pakai telur," ujarnya seperti dikutip TribunWow.com dari TvOne, pada Rabu (17/7/2018).

Pernyataan tersebut mendapat sorotan dari media asing, Bloomberg, pada Jumat (20/7/2018).

Dikutip dari Bloomberg, cukup kaget mengetahui piala dunia disebut telah meningkatkan konsumi telur.

Ini dikarenakan para penggemar sepak bola yang menonton piala dunia gemar mengkonsumsi mie instan dengan telur.

"Bagaimana Piala Dunia membuat harga telur lebih mahal di Indonesia," tulis Bloomberg di lamannya.



Artikel dari Bloomberg
Artikel dari Bloomberg (Capture Bloomberg)
Berita tersebut pun juga mendapat tanggapan dari Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Fahri pun juga mentautkan berita dari Bloomberg itu dengan menuliskan caption yang diakhiri dengan emoji tertawa.

"Bloomberg pun menulis...

Katanya :

pula Dunia ——> nonton malam ——> ngemil Mie gelas/ Mie Telor —-> terbuat dari telur —-> harga naik," tulis Fahri Hamzah.
Sementara itu, dikutip TribunWow.com dari Kontan, melihat perkembangan harga telur ayam ras yang masih tinggi, Kementerian Pertanian (Kemtan) melakukan operasi pasar dengan melepas 100 ton telur ayam di Jabodetabek. Operasi pasar ini dilakukan di 50 titik, meliputi Toko Tani Indonesia (TTI) Center, 43 pasar dan 6 perumahan atau kelurahan yang tersebar di Jabodetabek.

Telur ini dijual dengan harga Rp 19.500 per kg.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, dengan adanya operasi pasar ini diharapkan harga di tingkat konsumen dapat berangsur stabil.

“Kalau boleh harganya Rp 22.000 - 23.000 per kg. Jangan lewat dari Rp 25.000 - Rp 26.000 per kg. Tetapi kalau sudah turun, operasi pasar ini dihentikan, supaya tidak merugikan petani,” ujar Amran, Kamis (19/7).

Amran mengatakan, operasi pasar ini tak hanya dilakukan di wilayah Jabodetabek.

Kegiatan ini pun akan dilakukan di wilayah lain.

Dia bilang, pihaknya sudah memberikan surat edaran kepada dinas pangan di provinsi untuk turut menurunkan harga.

Sementara itu, saat ini, harga telur di tingkat konsumen memang sempat melebihi Rp 28.000 per kg.

Sementara, harga acuan di tingkat konsumen yang diatur dalam Permendag No. 58 tahun 2018 sebesar Rp 22.000 per kg.

Amran pun mengatakan, terjadi disparitas harga sebesar 40% - 60% di rantai pasok. Amran mengatakan, ke depannya rantai pasok ini akan terus diperbaiki.

Namun, dia pun meminta supaya para pedagang tidak mengambil untung yang besar.[tribun]

Loading...
loading...