Keluarga Tak Percaya Yaser Wafat Karena Sakit di LP Gunung Sindur
logo

21 Juli 2018

Keluarga Tak Percaya Yaser Wafat Karena Sakit di LP Gunung Sindur

Keluarga Tak Percaya Yaser Wafat Karena Sakit di LP Gunung Sindur


GELORA.CO - Pihak keluarga besar Yaser bin Thamrin (30 tahun) tak pernah menyangka bahwa penangkapan Yaser pada Oktober 2017 lalu menjadi akhir perjumpaan mereka dengan almarhum. Yaser dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa saat dia masih menjadi tahanan LP Gunung Sindur, Bogor.

“Kami diberi kabar bahwa Yaser meninggal dunia karena penyakit liver oleh pihak kepolisian, tapi kami meyakini tidak seperti itu,” ujar salah seorang keluarga dekat Yaser, yang enggan menyebutkan namanya demi alasan keamanan pada Jumat, (20/07).

Kepada Kiblatnet, ia menuturkan bahwa pihak keluarga sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Yaser, terutama setelah kejadian perampasan senjata di Mako Brimob.

“Sejak saat itu sudah lost contact,” terangnya.

Di lingkungan keluarga, Yaser dikenal sebagai sosok yang baik dan murah sentum. Keluarga juga menyatakan bahwa Yaser tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Bahkan, kekuatan fisik Yaser cukup prima karena dia pernah menjabat sebagai ketua mahasiswa pecinta alam (Mapala) sewaktu kuliah.

“Beliau lulusan salah satu PTN di Kota Mataram dan pernah menjabat sebagai ketua Mapala satu periode,” ujar pihak keluarga kepada Kiblat.net melalui sambungan telepon.

Yaser bin Tahmrin diduga aparat terlibat dalam kasus penembakan dua polisi di Bima, yaitu Bripka Zaenal dan Bripka Gofur, pada 11 September 2017 lalu.

Yaser tidak terlibat langsung dalam kasus itu, namun menurut polisi, Yaser bin Thamrin dan Arkam ditangkap Densus 88 karena keterlibatan mereka dalam pelatihan fisik yang dilakukan pada internal JAT Bima.

Menurut keluarga, Yaser dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum. Dia merupakan lulusan salah satu PTN di kota Mataram, NTB dan pernah menjabat sebagai ketua mahasiswa pecinta alam (Mapala) selama satu periode di kampusnya.

Kasus kematian tahanan kasus terorisme, sudah kedua kalinya terjadi dalam satu bulan terakhir. Yang paling terakhir ialah kasus meninggalnya Ustadz Basri di LP Nusakambangan pada Sabtu, 7 Juli 2018.[kiblat]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...