Jokowi Imbau Rastra Jangan Terlambat ketika Disurvei, Fahri Hamzah: Modus Lama Tipuan Statistik
logo

17 Juli 2018

Jokowi Imbau Rastra Jangan Terlambat ketika Disurvei, Fahri Hamzah: Modus Lama Tipuan Statistik

Jokowi Imbau Rastra Jangan Terlambat ketika Disurvei, Fahri Hamzah: Modus Lama Tipuan Statistik


GELORA.CO - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah memberikan komentar terkait video yang ditautkan netizen, Selasa (17/7/2018).

Dalam tautan tersebut, tampak video Jokowi di Kompas TV yang berbicara di depan mimbar.

Pada video itu, terdapat potongan video berdurasi 41 detik yang diunggah oleh akun netizen, @rajapurwa.

Berikut ini kutipan penyataan Jokowi dalam unggahan video netizen yang dirangkum TribunWow.com.

"Saya minta Menko (Menteri Koordinator) untuk mengkoordinasi hal seperti ini, ini sebuah urusan koordinasi saja.

Sehingga jangan sampai pas pembagian rastra (beras sejahtera, dulunya raskin) nya terlambat pas itu dilakukan survei, masalah itu saja sebetulnya, bukan masalah yang lain-lain yang fundamental.

Kalau kemarin sinkron gak akan, saya jamin pasti turun yang namanya kemiskinan itu.

Hanya masalah keterlambatasn rastra itu sampai ke rumah tangga sasaran," ujar Jokowi.

Menanggapi tweet itu, Fahri Hamzah memberikan komentar jika hal itu adalah modus lama untuk tipuan statistik.

"Modus lama tipuan #StatistikTipu memalukan!," jawab Fahri.


Tautan video dalam berita tersebut merupakan video yang ditayangkan melalui Kompas.com sekitar 11 bulan yang lalu.

Berikut ini video lengkapnya:



Sementara itu, dikutip TribunWow.com dari Tribunnews, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 persen pada Maret 2018.

Dengan persentase kemiskinan 9,82 persen, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.

"Maret 2018 untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin berada di dalam 1 digit. Kalau dilihat sebelumnya, biasanya 2 digit, jadi ini memang pertama kali dan terendah," kata Kepala BPS, Suhariyanto, saat menggelar konferensi pers di kantornya, Senin (16/7/2018).

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu September 2017, persentase kemiskinan tercatat sebesar 10,12 persen atau setara dengan 26,58 juta orang penduduk miskin di Indonesia.

Bila dirinci lagi, terdapat penurunan persentase penduduk miskin baik di perkotaan maupun di perdesaan.

Persentase penduduk miskin di perkotaan per Maret 2018 sebesar 7,02 persen, turun dibandingkan September 2017 sebesar 7,26 persen.

Sama halnya dengan di perdesaan, di mana persentasenya pada Maret 2018 sebesar 13,20 persen, turun dari posisi September 2017 sebesar 13,47 persen.
Suhariyanto mengungkapkan, sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan dari September 2017 hingga Maret 2018 adalah inflasi umum dalam periode itu sebesar 1,92 persen.

Serta rata-rata pengeluaran per kapita tiap bulan untuk rumah tangga di 40 persen lapisan terbawah yang tumbuh 3,06 persen.

Faktor lain yaitu bantuan sosial tunai dari pemerintah yang tumbuh 87,6 persen pada kuartal I 2018 atau lebih tinggi dibanding kuartal I 2017 yang hanya tumbuh 3,39 persen.
Selain itu, juga dari program beras sejahtera ( rastra) dan bantuan pangan non-tunai kuartal I yang tersalurkan sesuai jadwal.

"Lalu karena nilai tukar petani Maret 2018 di atas angka 100, yaitu 101,94, dan kenaikan harga beras sebesar 8,57 persen pada September 2017 sampai Maret 2018 yang disinyalir mengakibatkan penurunan kemiskinan jadi tidak secepat periode Maret 2017 sampai September 2017," kata dia.

Sementara itu, jika ditarik mundur, pada 1999 Indonesia mencatat persentase kemiskinan paling tinggi, sebesar 23,43 persen atau setara dengan 47,97 juta penduduk miskin.
Angka kemiskinan pada tahun-tahun berikutnya secara bertahap menurun meski sempat beberapa kali naik pada periode tertentu.

"Tetapi, menurut saya, kita masih punya banyak PR, bagaimana supaya kebijakan-kebijakannya lebih tepat sasaran sehingga penurunan kemiskinannya menjadi lebih tepat," ujar Suhariyanto.[tribun]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...