logo

5 Juli 2018

Analogikan Islam dengan KFC, Nadirsyah Hosen Kena Skakmat

Analogikan Islam dengan KFC, Nadirsyah Hosen Kena Skakmat


GELORA.CO - Setelah dagangan "ISLAM LIBERAL" gak laku dijual di Indonesia. Kini marak "ISLAM NUSANTARA".

Pengusung keduanya gak jauh beda. Sebagian itu-itu juga.

Salah satu pengusung "ISLAM NUSANTARA" adalah tokoh NU di Luar Negeri, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen.

‏ Dalam rangka memasarkan "ISLAM NUSANTARA", Nadirsyah Hosen menganalogikan ISLAM dengan KFC, salah satu merek dagang waralaba asal Amerika yang mendunia.

"Islam itu aqidahnya sama sedunia. Tapi aplikasi & ekspresi keislaman itu ada muatan lokalnya. Contoh: KFC itu jualan ayam goreng. Tapi di Indonesia mrk jg jualan nasi. Di Ausie cuma pakai kentang. Namanya tetap KFC. Kalau udah paham ini, gak sulit mau paham ttg Islam NUsantara 😊," kicau Nadirsyah Hosen di akun twitternya @na_dirs, Rabu (4/7/2018).



Sontak, kicauan dosen Monash University ini ramai ditanggapi warganet.



"Tapi kok ga ada istilah KFC Nusantara ya? Hehehe," timpal Abuhafizh Rindro.

"Iya tdk pernah diembel2i tertulis

dgn KFC (Indonesia, Nusantara), tetep aja billboardnya KFC...😂😂, Blm pernah ditulis KFC indonesia, KFC jawa, KFC medan, KFC manado😎," komen @DPrionoto.

"Maaf prof, tapi namanya tetap KFC, cuma ada tambahan menu lokal. Tetap Islam, dan 'urf/tradisi lokal tetap diakomodir sepanjang tidak bertentangan dg syariat. Tapi mewacanakan Islam dg muatan wilayah (Islam Nusantara -red) hemat saya malah terlalu banyak tafsir dan debat panjang," kata @Dwisuci_pbg.



BALASAN SUPER TELAK disampaikan oleh Noor Puspa...


Netizen lain menyoroti, bagaimana bisa disamakan dengan KFC, kalau KFC lokal malah menjelek-jelekkan KFC asal.

"KFC dirintis di Amerika oleh Kolonel Harland Sanders.

KFC buka gerai di Indonesia dengan menyesuaikan citarasa Indonesia.

Sampai gilirannya, KFC yang di Indonesia menyebut dirinya sebagai sejatinya KFC sambil menyebut KFC yang di Amerika itu tak enak, racikannya tak sesuai, dagingnya tak matang, dsb.

Kira-kira istilah “ngawur” sampai ke akal seorang profesor tidak, ya?

Aqidah kok dianalogikan dengan makanan," ujar Harmasto Hendro Kusworo.


Loading...
loading...