logo

7 Juni 2018

Direktur Survei Charta Politika Yunarto Wijaya: Elektabilitas #GantiPresiden2019 Merangkak Naik

Direktur Survei Charta Politika Yunarto Wijaya: Elektabilitas #GantiPresiden2019 Merangkak Naik


www.gelora.co - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan tagar Ganti Presiden 2019 berhasil merangkak naik.

Hal tersebut ia katakan melalui akun Twitter-nya, @yunartowijaya,Kamis (7/6/2018).

Yunarto mengatakan elektabilitas dari #GantiPresiden2019berhasil naik, namun tidak dengan elektabilitas tokoh yang sering disebutkan.

Tokoh yang biasa ditautkan pada #GantiPresiden2019 seperti Prabowo, Gatot, dan Anies tidak ikut merangkak naik seperti tagar tersebut.

Direktur Charta Politika juga memberikan tawaran di Tahun 2019 apakah ingin adu tagar atau adu capres.

“Terlihat elektabilitas #GantiPresiden2019 berhasil merangkak naik, tapi tidak demikian dgn elektabilitas Prabowo, Gatot, Anies apalagi Amien.. Jadi 2019 mau adu tagar atau adu capres?,” tulis Yunarto.


Diberitakan sebelumnya, Charta Politika telah resmi merilis hasil survei elektabilitas calon Presiden 2019, Senin (21/5/2018).

Dikutip dari Tribunwow.com dari tayangan iNews Pagi, Presiden Jokowi menduduki peringkat pertama sebagai calon presiden 2019 menurut lembaga survei Charta Politika.

Dari hasil survei yang mencantumkan 7 nama, sebanyak 51,2 persen responden memilih Jokowi.

Sedangkan, Ketua Gerindra Prabowo Subianto mendapatkan suara 23,3 persen.

Sedangkan, nama Gatot Nurmatyo berada di posisi ketiga disusul Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Jusuf Kalla, dan Muhaimin Iskandar yang mendapatkan 0,6 persen.

Margin of error sebesar 2,19 persen yang artinya angka ini masih bisa bertambah atau berkurang sebesar 2,19 persen.

Sementara itu, dalam survei partai yang dilakukan oleh lembaga yang sama, PDIP menduduki peringkat pertama yang paling banyak dipilih responden sebesar 24,9 persen.

Disusul partai Gerindra dengan 12,3 persen, kemudian Golkar 11,3 persen.

“Alasan pemilih partai sangat menarik seperti contoh pemilih PDIP banyak dipilih karena Jokowi, sedangkan pemilih Golkar dipilih bukan karena petingginya melainkan kebiasaan memilih mereka setelah orde baru,” kata Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika.[tn]

Loading...
loading...