9 Juni 2018

Bantah Islam Teroris, Wanita Non Muslim Ramai-ramai Berhijab

Bantah Islam Teroris, Wanita Non Muslim Ramai-ramai Berhijab


www.gelora.co - Wanita non Muslim di berbagai belahan dunia mengenakan jilbab selama 30 hari sebagai bagian dari Tantangan Hijab Ramadhan (Ramadan Hijab Challenge).

Inisiatif ini dibuat oleh organisasi World Hijab Day, yang menyajikan ruang bagi wanita non Muslim untuk mengenakan hijab dan puasa pada bulan Suci Ramadan.

Nazna Khan, founder World Hijab Day, seperti dikabarkan Independent mengatakan kepada Aljazeera: "Event ini adalah bagi mereka yang ingin merasakan pakai hijab selama lebih dari satu hari untuk lebih memahami apa yang wanita Muslim alami setiap hari," katanya. Akun Twitter World Hijab Day lantas mengunggah foto-foto wanita non Muslim berhijab dari seluruh dunia.




Grace Lloyd (11 tahun) asal Doha memilih untuk mengenakan jilbab hitam ke sekolahnya. Lloyd, yang bukan seorang Muslim, mengatakan dia “merasa sangat kuat” tentang hal itu, dan berencana memakainya sepanjang bulan.

Ibunya, Ellie, menambahkan bahwa dia akan memberi pakaian Lloyd agar sesuai dengan kesopanan yang dibutuhkan untuk berhijab. Mereka juga membuat halaman GoFundMe untuk mengumpulkan uang bagi organisasi World Hijab Day, dan menulis:

"Tujuannya adalah untuk membantu memerangi Islamaphobia di seluruh dunia dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih menerima dan damai untuk ditinggali.

Ramadan adalah bulan yang penting dalam kalender Islam. Jadi apa waktu yang lebih baik untuk menunjukkan dukungan saya kepada para saudari hijabi saya di seluruh dunia. Sebagai seorang Kristen, saya merasa penting bagi semua agama untuk saling mendukung dalam keyakinan dan perjalanan spiritual mereka tanpa prasangka.

Saya akan mengenakan jilbab saya setiap hari selama Ramadan dengan bangga. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita tidak harus dipisahkan oleh iman. Untuk mengalami bagian dari iman orang lain memberi kita pemahaman yang lebih baik dan menghormati orang lain juga. Sebagai kesempatan untuk belajar sendiri bagaimana rasanya 'berjalan di sepatu orang lain'."

Selain Grace Lloyd, Kayla Hajji, warga Mormon, USA, juga mengenakan hijab dan mengobservasi ibadah puasa selama Ramadan.




Hajji mengatakan, ada keindahan yang dapat dirasakan dari komunitas orang yang berpuasa, dan keindahan itu tidak dapat digambarkan, kecuali ikut berpartisipasi di dalamnya. “Saya memutuskan untuk mengikuti Hijab Challenge tahun ini karena ingin membantu orang-orang di komunitas saya agar mengerti bahwa Islam bukan teroris dan tidak mengerikan seperti yang diberitakan di media,” tulis Hajji di Twitter-nya.

Diskriminasi terhadap Muslim telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, dengan wanita Muslim yang mengenakan jilbab sering menerima banyak pelecehan.

Menurut statistik Tell MAMA, yang memantau Islamophobia di Inggris, dari 765 korban dan 874 pelaku yang diidentifikasi, 56 persen korban adalah wanita Muslim.

Kepala komunitas dan ketua Tell MAMA, Shahid Malik, mengatakan kepada The Independent:

"Ketika para wanita merasa terpaksa memodifikasi penampilan atau pakaian mereka agar tetap aman di jalan-jalan kami, maka kami berada di jalan untuk bersama masyarakat dan menemukan bahwa warga Inggris Muslim adalah warga kelas dua di negara mereka sendiri.

Kita sekarang membutuhkan pemerintah, perusahaan media sosial, sekolah, organisasi keagamaan dan warga biasa untuk berdiri bersama untuk melindungi nilai-nilai Inggris, kebebasan Inggris, dan cara hidup kita." [viva]

under reconstruction