12 Juni 2018

Arus Mudik Mengalami Penurunan, Andi Arief: Ini Semakin Membenarkan Orasi AHY 'Anak Ingusan'

Arus Mudik Mengalami Penurunan, Andi Arief: Ini Semakin Membenarkan Orasi AHY 'Anak Ingusan'


www.gelora.co – Politisi Partai Demokrat, Andi Arief mengomentari terkait arus kendaraan mudik mengalami penurunan sebanyak 40 persen.

Dilansir Tribunwow.com melalui Twitter-nya, @AndiArief__, ia mentautkan berita yang mengatakan polisi sebut arus mudik Jakarta – Jateng turun jadi 40 persen.

“Mudah-mudahan tahun depan ekonomi membaik dan keinginan mudik meningkat,” tulis Andi Arief, Selasa (12/6/2018).

Menurut Andi, 60 persen sisanya tidak mudik atau memilih transportasi lain.

Jika hal tersebut dikarenakan kesulitan ekonomi untuk tidak mudik, maka ada tugas mendesak pemerintah memperbaiki ekonomi masyarakat mengenai daya beli.

“Arus kendaraan mudik menurut kepolisian hanya 40 persen dibanding tahun lalu. Artinya yang 60 persen tidak mudik atau memilih transportasi lain. Kalau karena kesulitan ekonomi tidak mudik, ada tugas mendesak pemerintah memperbaiki ekonomi masyarakat, ada soal daya beli,” tulis Andi Arief.


Andi juga menambahkan, data yang telah dikatakan pihak kepolisian mengenai arus mudik tersebut jangan ‘dipolitisir’, namun dijadikan pengingat atas merosotnya ekonomi masyarakat.

Politisi Demokrat mengatakan Presiden Joko Widodo harus bekerja lebih keras lagi untuk memperbaiki ekonomi.

“Data kepolisian arus mudik yang hanya 40 persen dari tahun lalu jangan dipolitisir, tapi ini jadi bukti atau “alarm” atas merosotnya ekonomi masyarakat. Pak Jokowi harus lebih keras lagi perbaiki ekonomi,” tulis Andi.


Data kepolisian tersebut juga dikaitkan Andi dengan orasi AHY yang sering disebut ‘Anak Ingusan’.

“Arus mudik ke jawa yang turun menjadi 40 persen tahun ini semakin membenarkan orasi anak ingusan AHY bahwa hasil kunjungannya ke 60 kabupaten di jawa ekonomi alami kemerosotan,” tambah Andi.


Sebelumnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), telah menyampaikan orasi bertajuk ‘Mendengar Suara Rakyat’ pada Sabtu, (9/6/2018).

Dalam orasinya tersebut, Agus menyampaikan sejumlah hal, termasuk ajakan untuk memelihara persatuan dan kesatuan.

Meski demikian, Agus juga melontarkan beberapa kritik terhadap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Kritikan AHY mengenai daya beli masyarakat ia sampaikan meski angka-angka indikator makroekonomi relatif baik, namun kenyataan di lapangan berbeda.

“Hampir di setiap tempat, yang kami datangi, rakyat berteriak, ‘Pak, bagaimana ini? Harga-harga kebutuhan pokok naik! Barang-barang makin mahal’,” kata Agus.

Agus menyebut, di satu sisi, harga-harga kebutuhan, naik secara signifikan.

Di sisi lain, kemampuan dan kesempatan masyarakat makin terbatas untuk memperoleh penghasilan yang layak.

Harus diakui, sebut Agus, daya beli rakyat memang menurun. Utamanya adalah rakyat berpenghasilan rendah dan kurang mampu.[tn]

under reconstruction