logo

17 Mei 2018

Bripka Iwan Saksi Hidup Insiden Mako Brimob, 5 Rekannya Dibunuh saat Dipaksa Bocorkan Rahasia Negara

Bripka Iwan Saksi Hidup Insiden Mako Brimob, 5 Rekannya Dibunuh saat Dipaksa Bocorkan Rahasia Negara


www.gelora.co - Sedikit demi sedikit aksi sadis kawanan napi teroris di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, terungkap.

Bripka Iwan Sarjana menyebut, lima temannya tewas usai mempertahankan rahasia negara dari kawanan napi terorisme di Rutan Mako Brimob.

Hal itu ia ungkapkan dalam acara Indonesia Lawyers Club yang tayang di TV One pada 15 Mei 2018 yang diunggah dalam akun youtube oleh chanel Indonesia Lawyers Club tvOne.

Bripka Iwan menceritakan pengalaman pahit yang ia alami selama menjadi anggota kepolisian.

Dengan tubuh yang masih dibalut perban, Bripka Iwan menceritakan saat itu ia disandera oleh Napi Teroris.

Namun, saat penyanderaan dilakukan mata Bripka Iwan ditutup oleh napi teroris sehingga tidak bisa melihat apapun.

Menurutnya, suasana ditempatnya disandera saat itu begitu sagat mencekam.

Meskipun matanya ditutup, tapi telinganya masih mendengar jelas pembicaraan napi teroris didalam tahanan.

Namun, ia tidak tahu siapa napi teroris yang bicara padanya.

Dalam wawancaranya, Bripka Iwan mengungkapkan jika napi teroris ingin mengorek informasi dari anggota polisi yang saat itu disandera yang juga bagian dari anggota Densus 88.

Namun, teman-temannya lebih memilih mati dibandingkan harus membocorkan rahasia negara kepada para penjahat itu.

"Saya mendengar teroris bicara kepada saya. Dia (napi teroris) bilang Disitu ada teman mu, adek mu yang masih muda itu, saya interogasi tidak mau, dia memilih ditembak mati dari pada didinterogasi," kata Bripka Iwan menirukan ucapan pelaku.

Ia mengaku tidak tahu siapa napi yang berbicara kepadanya itu lantaran matanya ditutup serta kaki dan tangannya terikat.

"Saya tidak mengenalinya. Karena mata saya ditutup oleh pelaku," lanjutnya.

Iwan mengaku pasrah apapun resiko yang akan dialaminya ketika disandera oleh napi teroris di dalam mako Brimob.

Meski demikian, besar harapannya ada yang datang untuk membebaskannya dari sanderaan napi teroris itu.

"Saya ingat keluarga dirumah dan saya engga akan bertemu lagi dengan mereka. Saya berharap ada yang membebaskan saya lagi dan ada anggota yang masih hidup didalam," ungkapnya.

Menurutnya, selamatnya ia dari tangan napi teroris merupakan anugrah dari tuhan.

"Saya berpikir 99 mati dan 1 persen hidup dan satu persenlah yang menjadi harapan diri saya untuk hidup. saya juga terimakasih kepada pimpinan yang saat it anak buahnya disandera," ungkapnya.

Ia pun berpesan agar seluruh anggota jangan gentar melawan teroris.

"Tetap semangat melawan teroris tanpa harus takut dan putus asa, Kejadian saya ini menjadi semangat untuk rekan-rekan berjuang lagi," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan alasan Polri tertutup dalam menangani kerusuhan di rutan cabang Salemba Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

"Karena ini persoalan taktikal yang tidak boleh diobral keluar," ujar Moeldoko di Kantornya, Jakarta, Jumat (11/5/2018) lalu.

Moeldoko pun berharap, masyarakat bisa memahami hal tersebut agar tidak muncul dugaan yang tidak semestinya.

"Agar tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu padahal cerita yang sesungguhnya tidak seperti yang dipersepsikan di luar," kata dia.

Moeldoko pun lantas menceritakan, bagaimana kisah detik-detik pembebasan sandera anggota Polisi yang ditawan oleh narapidana terorisme.

Menurut mantan Panglima TNI itu, ada beberapa alternatif tindakan yang bisa diambil ketika itu, yakni serbu langsung, atau memberikan tekanan terlebih dulu.

"Tentu ada kalkulasi yang harus dihitung. Apalagi saat itu masih ada satu anggota polisi yang masih hidup dan jadi sandera," kata dia.

Akhirnya keputusan diambil, yakni dilakukan tekanan-tekanan lebih dulu. Beberapa di antaranya mematikan listrik, air, menghentikan pasokan makanan.

"Setelah ada keluhan dari mereka, satu anggota kita dilepas. Maka secara terbatas makanan kita berikan," ujarnya.

Polisi pun kembali memberikan tekanan dan akhirnya 145 narapidana terorisme menyerah dan menyisakan 10 napi kasus terorisme saja.

"Waktu itu kita ikuti melalui CCTV. Di situlah ada perintah melakukan serbuan. Kemarin ada suara ledakan-ledakan itulah serbuan," kata dia.

Akhirnya, usai diserbu 10 napi terorisme yang masih ngotot memberikan perlawanan pun menyerah.

Menurut Moeldoko, sesuai dengan konvensi Jenewa 1949 yang telah dimodifikasi dengan tiga protokol amandemen, maka korban luka dan korban sakit dalam konflik militer wajib dikumpulkan dan dirawat serta diperlakukan dengan respek.

"Mengapa tidak dihabisi semua? Karena ada konvensi Jenewa, kalau lawan sudah menyerah itu tidak boleh dibunuh," ucap Moeldoko.

Seperti diberitakan, Kerusuhan terjadi di Rutan cabang Salemba, Mako Brimob, Kepala Dua, Depok, , Jawa Barat sejak Selasa (8/5/2018) malam.

Meski sempat ada perlawanan, sebanyak 155 tahanan di rutan cabang Salemba yang ada dalam Mako Brimob akhirnya menyerahkan diri pada Kamis (10/5/2018) pagi.

Sebanyak lima personel Detasemen Khusus 88 Antiteror yang disandera gugur dan seorang napi teroris tewas atas insiden ini.

Sementara seorang sandera terakhir yakni Bripka Iwan Sarjana bisa dibebaskan dalam kondisi selamat pada Kamis dini hari.

Iwan mengalami luka-luka dan langsung dirawat di RS Polri Kramat Jati.

Untuk diketahui, enam terduga teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ingin melakukan serangan ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menerangkan, enam terduga teroris ditangkap.

Empat ditembak mati di Cianjur karena melakukan perlawanan dengan senjata api. Yakni, BBN (20), DCN (23), AR (32), dan HS (23).

Sementara G di Sukabumi, dan M di Bekasi. Mereka bersepakat untuk melakukan penyerangan ke arah Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Berangkat dari Sukabumi melalui Cianjur menuju Jakarta.

"Mereka berencana melakukan penyerangan ke Pos Polisi di Jakarta, Bandung, dan Mako Brimob," ujar Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Minggu (13/5/2018).

Metode penyerangan yang mereka gunakan adalah hit and run.

Beberapa alat telah dipersiapkan, seperti senjata api dan panah yang busurnya disertai bom.

"Panah dan busur. Diujung ada bomnya. Begitu dilesakan, meledak," ucap Setyo.

Tim Densus 88 Antiteror mengamankan beberapa barang bukti dari tangan pelaku, yakni dua senjata api jenis revolver beserta delapan peluru, mobil Honda Brio, masing-masing KTP terduga pelaku teroris, satu tulisan kertas putih, ponsel genggam, dan beberapa barang bukti lainnya

"Sementara pelaku G dan M masih dilakukan pendalaman," imbuh Setyo.[tn]

Loading...
loading...