2 April 2018

Yusril: Gak ada urusannya, tampang ndeso enggak ndeso bisa aja jadi diktator

Yusril:  Gak ada urusannya, tampang ndeso enggak ndeso bisa aja jadi diktator

Yusril Ihza Mahendra saat berpidato dalam pembukaan Kongres Umat Islam di Sumatera Utara

www.gelora.co - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra mengatakan, pada pemilu 2019 nanti jangan lagi memilih pemimpin yang dari tampangnya sederhana, tampangnya ndeso dan merakyat tapi setiap kebijakannya pro asing dan selalu menyengsarakan rakyatnya sendiri seperti sekarang ini.

“Jadi jangan kita pikir, oh orang ini tampangnya sederhana, tampangnya wong ndeso, kita pilih jadi presiden, jangan model pak Yusril, oranya borjuis, bajunya kayak tengku melayu,” kata Yusril dalam pidatonya di Kongres Umat Islam Sumatera Utara, Jumat (30/3) lalu

Pasalnya kata Yusril, tidak ada pengaruh wajah orang itu dengan kebijakan-kebijakannya. Ia pun mencontohkan, Bung Karno presiden pertama RI tak bertampang merakyat tapi setiap kebijakanya sangat pro terhadap rakyat.

“Bung Karno itu, siapa yang bilang Bung Karno itu tampangnya merakyat? Enggak, pakai jas putih mentereng, sepatunya mengkilat, kacamatanya yahud, merek rayban jaman dulu. Pecinya gagah. Pake mobil bak terbuka, hobinya koleksi barang antik, patung, lukisan siapa bilang Bung Karno merakyat, enggak merakyat tampangnya, tapi siapa yang mengatakan Bung Karno itu kebijakannya tidak pro rakyat, tidak ada. Loh yang sekarang ini?,” ujar Yusril.

Yusril menegaskan, tak ada hubunganya wajah endeso dan enggak endeso bisa saja jadi diktator. Bisa saja pro asing dan tidak pro kepada rakyat.

“Tidak ada hubungannya wajah itu, lah ‘katanya saya ini dibilang diktator, wong tampang saya tampang wong ndeso’, gak ada urusannya, tampang ndeso, enggak ndeso bisa aja jadi diktator. Tampang ndeso enggak ndeso bisa aja pro asing tidak pro pada rakyatnya sendiri,” tegas Yusril.

Karena itu pakar hukum Tata Negara ini berharap agar umat Islam aktif terlibat dalam berpolitik.

“Harapan saya, umat Islam jangan pasif. Harus aktif dalam politik. Jangan sampai 2019 terpilih kembali pemimpin yang seperti sekarang ini, bisa bikin kita susah semuanya,” katanya.

Yusril mengajak umat Islam untuk belajar dari kasus Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Hizbut Tahrir Indonesia tidak mau terlibat dalam Pemilu karena mau Khilafah. Tetapi, ketika Jokowi jadi presiden, dengan selembar surat diterbitkannya pembubaran HTI. HTI tidak bisa apa-apa,” katanya.

Dari kasus itu kemudian Yusril menyatakan kepada tokoh-tokoh HTI bahwa segudang kepintaran itu tidak ada artinya dibanding segenggam kekuasaan.

“Presiden itu ya, walaupun goblok, saya enggak sebut namanya siapa, saya enggak bilang namanya siapa, ini Presiden dalam arti umum, walaupun orangnya itu goblok, segoblok-gobloknya dia, ya tetap presiden. Kami-kami ini saya, Pak Amien, Pak Kivlan Zen dan lain-lain ini enggak ada apa-apanya, kita bukan siapa-siapa jika tidak punya kekuasaan,” pungkas Yusril.

Sumber: abadikini

under construction
loading...