3 April 2018

Peluang Realistis Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019

Peluang Realistis Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019

www.gelora.co -  Gatot Nurmantyo resmi menjadi jenderal purnawirawan pada Minggu (1/4), setelah 36 tahun berkarier di militer. Begitu pensiun, Gatot langsung menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi Pemilihan Presiden (pilpres) 2019.

"Apabila Republik ini memanggil dan rakyat menghendaki, tentunya dengan semangat patriotisme saya akan selalu siap memberikan yang terbaik bagi NKRI," ujar Gatot dalam sebuah video purna tugasnya sebagai prajurit TNI.

Meski sudah menyatakan siap, Gatot belum punya kendaraan politik. Sejumlah parpol memang memasukan namanya dalam daftar meski hanya untuk posisi cawapres.  Namun belum satupun resmi menyatakan akan mengusungnya, apalagi untuk posisi capres.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, Gerindra merupakan satu-satunya partai yang cukup realistis bagi Gatot untuk maju menjadi capres.

Hal itu bisa terjadi jika Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto legowo mengurungkan niatnya menjadi orang nomor satu di Indonesia. Peran Prabowo hanya menjadi king maker alias sutradara dan menunjuk Gatot sebagai capres.

Gatot dinilai lebih masuk akal jika diusung Gerindra dan Prabowo mengalah untuk tidak maju lagi di Pilpres. Pasalnya ada irisan suara mereka jika keduanya bertarung. 

Yunarto mengatakan jika Prabowo dan Gatot maju dari poros yang berbeda maka keduanya akan saling 'memakan' suara. Hal itu justru akan menguntungkan rival mereka, yaitu Joko Widodo yang kemungkinan besar kembali maju sebagai capres petahana.

"Karena irisan suara Prabowo dan Gatot sama. Sama-sama jenderal, dianggap pemimpin tegas dan segala macam, lebih ke arah orang-orang yang anti-Jokowi, misalnya. Jadi, akan saling merugikan karena captive market mereka belum solid," kata Yunarto kepada CNNIndonesia.com.
Lihat juga: Gerindra: Prabowo dan Gatot Bukan Pasangan Ideal

Prabowo dan Gatot juga dinilai Yunarto sulit jika harus maju bersama sebagai capres dan cawapres karena keduanya punya kesamaan latar belakang yakni milliter.

"Tidak ada market baru yang didapatkan, tidak ada efek komplementer," ujar Yunarto. 

Maju lewat Gerindra bukan tanpa tantangan. Elektabilitas Gatot menurut Yunarto saat ini terbilang masih rendah, jauh di bawah Prabowo. 

Karena itu ia menyarankan Gatot perlu berkonsentrasi menaikkan elektabilitas sebelum pendaftaran capres dibuka pada Agustus mendatang. Dengan demikian, Gatot memiliki posisi tawar kepada Prabowo. 

Yunarto menilai dengan rendahnya elektabilitas Gatot maka tidak masuk akal jika Prabowo menyerahkan Gerindra begitu saja. Sementara elektabilitas Prabowo masih lebih tinggi dibanding Gatot.

Alternatif lain bagi Gatot jika ingin maju adalah melalui poros ketiga yang digadang-gadang akan dibentuk oleh Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional.

Namun, partai-partai tersebut juga sudah memilki jagoannya sendiri untuk diusung. Misalnya, Demokrat bakal mengusung capres Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai cawapres dari PKB. Sementara PAN punya jagoan Zulkifli Hasan, Ketua Umum yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Yunarto menegaskan, jika langkah ini yang diambil, hal ini bisa menguntungkan Jokowi lantaran ada irisan pemilih antara Gatot dan Prabowo.

Gatot juga dinilai kurang pas untuk menjadi cawapres Jokowi karena kecenderungan basis massa pendukungnya sudah berbeda, begitu pun dengan posisi politik keduanya.

"Jadi, chemistry agak sulit. Menjadi cawapres Prabowo pun tidak akan memberi efek komplementer dan akan merugikan," ujarnya.

Selain bermasalah pada kendaraan politik, upaya mendongkrak elektabilitas Gatot merupakan tugas yang tak mudah. Yunarto menyebut tingkat pengenalan Gatot oleh publik masih berkisar 40 persen, belum mencapai angka mumpuni di atas 70-80 persen untuk seorang capres. 

"Karena Gatot dikenal oleh orang yang mengikuti politik, belum sampai pada level grassroot. Menurut saya itu PR" ujarnya.

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Mada Sukmajati juga menilai Gatot sulit menjadi capres karena hingga saat ini belum ada parpol yang menyatakan dukungan kepadanya.

"Saya kira peluangnya tergantung pada kemampuan dia setelah tidak menjabat dalam mobilisasi dukungan pencalonannya, dan saya kira itu berat," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Mada pun mempertanyakan apakah Gatot Nurmantyo masih memiliki kekuatan politik setelah menyandang status purnawirawan TNI.

"Partai politik mengusung capres atau cawapres dari tentara itu, biasanya hanya ketika (calon) menjabat saja atau menjelang akhir masa jabatan. Itu pun mungkin sekedar testing the water, belum ada pembicaraan serius," ujarnya. (cnn)

under construction
loading...