13 April 2018

Menakar Kekuatan Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019

Menakar Kekuatan Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019

www.gelora.co - Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto telah dideklarasikan menjadi capres untuk pilpres mendatang. Sementara Joko Widodo telah dideklarasikan oleh PDIP sejak dua bulan yang lalu. Dengan demikian, peluang keduanya untuk kembali bertarung seperti di Pilpres 2014 besar terjadi.

Kini kedua capres itu tengah sibuk mencari cawapresnya masing-masing. Jokowi, telah menyiapkan tim penjaringan cawapres Jokowi. Tim dari koalisi parpol Jokowi ini, nantinya akan bekerja sama denga informal untuk melahirkan cawapres bagi Jokowi.

Sementara Gerindra, selain mencari cawapres, partai itu kini juga tengah mencari partai koalisi agar bisa maju di Pilpres 2019. Sebab, meski saat ini partai berlogo kepala garuda dekat dengan PKS dan PAN, namun kedua partai itu belum secara resmi mendeklarasikan dukungannya untuk Prabowo.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, meski keduanya belum menemukan cawapresnya masing-masing, namun ia sudah mengklasifikasikan tipe-tipe pemilih Prabowo dan Jokowi.


"Suara islam akan terbelah. Untuk kalangan masyarakat muslim tradisional cenderung memilih Jokowi, sementara kelompok masyarakat muslim modern akan memilih Prabowo," ucap Qodari, saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Jumat (13/4).

Sebab, Qodari menilai, partai-partai Islam yang bergabung dengan koalisi Jokowi seperti PPP dan PKB memiliki massa yang berbasis golongan muslim tradisional seperti NU. Sementara PKS dan PAN yang dekat dengan Gerindra, punya jumlah massa yang berasal dari kalangan islam modern seperti Muhammadiyah.

Qodari tak bisa memprediksi siapa yang cenderung memiliki kekuatan lebih untuk bisa menang di Pilpres 2019. Ia menilai, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama memiliki peluang yang sama.

"Kelebihan Jokowi kan incumbent. Incumbent itu orang menilainya dari kinerja sampai hari ini ini dia masih di atas. Relasinya banyak, partai pendukung juga sudah lebih banyak," ucap Qodari.


Sementara Prabowo, kata dia, meski sempat kalah di Pilpres 2019 melawan Jokowi, bukan berarti Prabowo saat ini mudah dikalahkan. Sebab, Prabowo juga masih memiliki massa yang berasal dari golongan 'anti-Jokowi'.

"Prabowo, dia kelebihannya orang yang tidak mau ke Jokowi lari ke dia. Dia juga mendapatkan dukungan dari modernis, modal beliau untuk bergerak," lanjutnya.[kmp]

under construction
loading...