Kesaksian Ifan Seventeen di tvOne saat Diterjang Tsunami: Saya Terapung di Laut 2 Jam, Hampir Menyerah

Kesaksian Ifan Seventeen di tvOne saat Diterjang Tsunami: Saya Terapung di Laut 2 Jam, Hampir Menyerah

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Vokalis Ifan Seventeen menceritakan kisahnya saat terseret ombak Tsunami Banten. Cerita Ifan tersebut ia sampaikan saat dihubungi Tv one, Minggu (23/12/18).

Diketahui, Band Seventeen tengah manggung di Pantai Tanjung Lesung atau sekitar Pantai Carita saat tsunami terjadi.

Ifan menceritakan bahwa dirinya terlempar cukup jauh.

"Saya terlempar cukup jauh di tengah laut, saya menyebrang, saya terapung di laut hampir 2 jam, saya hampir menyerah, begitu saya sampai di pinggir saya mencari keluarga dan crew seventeen," ujar Ifan.

Lantas Ifan mengatakan bahwa ia melihat jenazah Oky dan Bani.

"Sampai di pinggiran pantai, saya melihat jenazahnya Mas Oky dan Mas Bani dalam keadaan terpejit dan sudah dipinggirin warga," ujar Ifan.

Ifan menyebutkan bahwa kondisi saat itu hujan deras dan mati lampu.

Ifan mengatakan bahwa dirinya selamat dan luka-luka.

Ifan mengatakan bahwa saat itu, Seventeen sedang menyanyikan lagu kedua.

Ifan mengatakan saat terjadi tsunami, dirinya menelan begitu banyak air laut.

" Memang kita nggak tahu apa yang terjadi,tiba-tiba panggungnya terbalik, kita jauth, menelan air laut, berlumpur, kita tergulung-gulung, kepala kepentok penuh besi," ujar Ifan.

Ifan menceritakan bahwa peserta gathering PLN sebagian terlempar ke laut.

"70 persen terlempar ke daratan, sebagian besar selamat, namun 30 persen terlempar di laut sebagian besar meninggal, karena saya melihat kepanikan, tampak orang saling menenggelamkan satu sama lain," ujar Ifan.

Ifan menceritakan bahwa dirinya berhasil mengait box dan menjauh dari kerumunan.

"Saya agak menjauh dari kerumunan orang yang ada di tengah laut, selang beberapa menit suasana sepi dan ternyata sudah meninggal semua," ujar Ifan.



Diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan secara resmi bahwa tsunami telah terjadi dan menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda.

Dalam surat resmi dari BMKG, kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, Minggu (23/12/2018).

Pada saat bersamaan terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama. Jadi ada kombinasi antara fenomena alam yaitu tsunami dan gelombang pasang.

Badan Geologi mendeteksi pada pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau erupsi kembali dan menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak.

Namun seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus (tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan).

Kemungkinan material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami.

Dampak tsunami menerjang pantai di sekitar Selat Sunda Dampak tsunami menyebabkan korban jiwa dan kerusakan.

Data sementara hingga Minggu (23/12/2018) pukul 04.30 WIB tercatat 20 orang meninggal dunia, 165 orang luka-luka, 2 orang hilang dan puluhan bangunan rusak.

Data korban kemungkinan masih akan terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak di data.

"Masyarakat diimbau tetap tenang. Jangan terpancing isu yang menyesatkan yang disebarkan oleh pihak yang tidak jelas. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di pantai Selat Sunda untuk sementara waktu. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan penelitian lebih lanjut," ujar Sutopo.

Sutopo menambahkan BNPB telah berada di lokasi bencana mendampingi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Bupati Pandeglang telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk penanganan darurat.

Jumlah korban

Hingga hari Minggu (23/12/2018) pukul 07.00 WIB, data sementara jumlah korban dari bencana tsunami di Selat Sunda tercatat 43 orang meninggal dunia, 584 orang luka-luka dan 2 orang hilang.

Kerugian fisik meliputi 430 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, 10 kapal rusak berat dan puluhan rusak.

"Jumlah pengungsi masih dalam pendataan. Pandeglang adalah daerah yang paling parah terdampak tsunami," Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Di Kabupaten Pandeglang tercatat 33 orang meninggal dunia, 491 orang luka-luka, 400 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, dan 10 kapal rusak berat.

Daerah yang terdampak adalah permukiman dan kawasan wisata di sepanjang Pantai seperti Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang dan Carita.

Saat kejadian banyak wisatawan berkunjung di pantai sepanjang Pandeglang.

"Di Lampung Selatan, 7 orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Serang tercatat 3 orang meninggal dunia, 4 orang luka-luka dan 2 orang hilang," sambungnya.

Pendataan masih dilakukan. Kemungkinan data korban dan kerusakan akan bertambah.

Penanganan darurat terus dilalukan. Status tanggap darurat dan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum dan lainnya masih disiapkan.

Alat berat juga dikerahkan untuk membantu evakuasi dan perbaikan darurat.

Masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya. [tribun]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita