Putusan MKEK Ditunda, IDI Pastikan Dokter Terawan Masih Berstatus Anggota

Putusan MKEK Ditunda, IDI Pastikan Dokter Terawan Masih Berstatus Anggota

Gelora News
facebook twitter whatsapp

www.gelora.co - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akhirnya pada kesimpulan terkait nasib Mayjen dokter Terawan Agus Putranto. Dokter Terawan sebelumnya direkomendasi dikeluarkan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (MKEK PB IDI) karena dianggap membuat banyak pelanggaran dalam profesinya sebagai dokter.

Keputusan IDI menuai banyak pro dan kontra. Apalagi sebagian pasiennya justru merasakan manfaat atas metode penyembuhan yang dilakukan Dokter Terawan.

Ketua Umum PB IDI, Prof Ilham Oetama Marsid, mengatakan sementara ini pihaknya menunda melaksanakan putusan MKEK karena keadaan tertentu.

"Oleh karenanya Dokter Terawan masih berstatus sebagai anggota IDI," kata dr Ilham Oetama Marsis SpOG, dalam jumpa pers di Sekretariat PB IDI, Jakarta, Senin (9/4).

Selain itu, IDI juga merekomendasikan penelitian mendalam terhadap tindakan terapi dengan metode brainwash atau cuci otak yang selama ini digunakan Dokter Terawan oleh tim health technology assessement (HTA) Kemenkes RI.

Sebelumnya, dalam sidang etik MKEK PB IDI menyebut Terawan membuat banyak pelanggaran. Dari berkas putusan MKEK PB IDI kami miliki, tercatat ada empat pelanggaran dilakukan Terawan. Satu, mengiklankan diri secara berlebihan dengan klaim tindakan untuk pengobatan (kuratif) dan pencegahan (preventif). Dua, Tidak kooperatif atau mengindahkan undangan divisi pembinaan MKEK dengan tidak menghadiri undangan kemahkamahan. Tiga, dugaan menarik bayaran dalam jumlah besar. Terakhir, Terawan dianggap menjanjikan kesembuhan pada pasien setelah menjalani tindakan cuci otak.

Terapi dilakukan terawan memang berbeda. Ahli Intervensi Radiologi lulusan Universitas Gajah Mada, ini memodifikasi metode digital subtracion angiography (DSA). Mulanya, dokter Terawan akan meneliti terlebih dahulu hasil CT scan dan magnetic resonance imaging (MRI) milik pasien. Kemudian melalui mesin pemindai pembuluh darah tiga dimensi DSA, ahli radiologi itu bisa menindak cepat pasien stroke.[mdk]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita