Luhut Bantah Dukung Prabowo dan Makna Pertemuan Itu

Luhut Bantah Dukung Prabowo dan Makna Pertemuan Itu

Gelora News
facebook twitter whatsapp
www.gelora.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan membantah mendorong Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto maju menjadi calon presiden 2019 mendatang. Itu disampaikan Luhut menyusul pertemuannya dengan Prabowo pada Jumat (6/4) lalu.

"Saya tidak pernah mendorong. Kalau beliau mau maju, ya, silakan maju," kata Luhut saat hadir di sela-sela Rakornas Bidang Kemaritiman PDIP di DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Ahad (8/4).

Namun, Luhut mengakui, Prabowo belum menyatakan bersedia maju sebagai capres 2019. Menurut Luhut, itu karena Prabowo masih menghitung secara cermat pertimbangan-pertimbangan untuk maju pada pilpres.

"Biar saja beliau begitu. Kalau beliau mau maju, saya kira bagus. Ya, pertimbangannya banyak. Pertimbangan internal beliau, saya tidak perlu cerita semua sama Anda," ujar Luhut.

Luhut juga membantah pertemuan dilakukan sebagai bagian utusan dari Presiden Joko Widodo untuk memastikan Prabowo maju capres atau mencalonkan calon lain dari Partai Gerindra. Dia mengatakan, pertemuannya dengan Prabowo adalah pertemuan biasa sebagai kawan lama.

Luhut mengakui, banyak hal dibicarakan dalam pertemuan tersebut, mulai dari persoalan bangsa hingga pilpres 2019. Namun, dia membantah membicarakan mengenai poros baru untuk pilpres 2019.

Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini angkat bicara terkait pertemuan kedua tokoh tersebut. Menurut dia, pertemuan itu berkaitan dengan tahun politik 2018 ini yang menjadi ancang-ancang untuk pilpres 2019. Apalagi, lanjut Yahya, Luhut dikenal sebagai orang yang dekat dengan Presiden RI Joko Widodo.

Oleh karena itu, komunikasi antara Luhut dan Prabowo diharapkan dapat lebih mencairkan hubungan antara Jokowi dan Prabowo sebagai dua tokoh yang paling memungkinkan saling berhadapan sebagai calon presiden pada 2019. "Pertemuan tokoh ini penting, apalagi dalam tahun-tahun politik seperti sekarang ini," tuturnya, Ahad.

Namun, Yahya mengakui, pertemuan tersebut dibungkus dengan wujud silaturahim antara dua tokoh negara yang merupakan sahabat lama dan sama-sama dari kalangan militer. Namun, bagaimanapun, silaturahim ini kental dengan nuansa politik.

Yahya berharap pertemuan tersebut bisa membuat Prabowo ikut bergabung ke dalam koalisi parpol pendukung Jokowi di pilpres 2019. Dia juga berharap Prabowo menjadi cawapres untuk Jokowi. "Kalau Pak Prabowo bisa digandeng, itu lebih stabil pemerintahan," kata dia.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai, seandainya benar dukungan Luhut untuk Prabowo, itu memiliki banyak tafsiran. Selain dukungan sebagai seorang teman, dorongan itu bisa juga diartikan dalam konteks melemahkan Prabowo.

Adi menjelaskan, Prabowo masih memiliki banyak kekurangan apabila benar ingin maju ke pilpres 2019 dan melawan Jokowi. Secara elektabilitas, beliau masih rendah dibandingkan dengan Jokowi.

“Persiapan logistik juga lebih sedikit, pun dengan dukungan dari partai politik. Masih banyak kekurangannya," kata dia.

Dengan kekurangan itu, Prabowo terbilang mudah dikalahkan Jokowi. Saat pihak pemerintahan, termasuk Luhut, memberikan dukungan, patut dikaji kembali.

Namun, menurut pengamat politik dari Universitas Paramadina, Toto Sugiarto, pertemuan tersebut hanya bersifat komunikasi politik biasa. Tidak ada kesepakatan tertentu maupun dukungan dan keberpihakan dari salah satu pihak yang tercetus dalam pertemuan itu.

"Mereka hanya menjalin komunikasi biasa antara dua orang teman yang memiliki latar belakang militer," ujar dia.

Komunikasi antara Luhut dengan Prabowo bukanlah kejadian baru. Sudah saling mengenal sejak lama membuat keduanya memiliki ikatan pertemanan yang tidak terbatas pada pembicaraan politik. Selain Prabowo, Luhut juga dikenal aktif menjalin komunikasi dengan kelompok lain seperti pengusaha Aburizal Bakrie.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengaku tidak khawatir pertemuan kedua tokoh tersebut akan memunculkan kesan negatif di kalangan basis massa Muslim. Prabowo justru menjembatani kepentingan umat terhadap pemerintah.

"Jadi, memang harus ada yang menjembatani," kata dia.

Dengan begitu, lanjut Riza, Pemerintah bisa lebih memahami posisi umat Islam saat ini, memberikan pengaruh yang positif kepada mereka, dan juga mampu menciptakan suasana kehidupan beragama yang rukun serta saling menghargai. Sebab, menurut dia, keberadaan umat Islam memang harus diberdayakan dan diberikan peran positif.

Apalagi, posisi Gerindra yang berada di luar garis pendukung pemerintah tentu membuka peluang yang besar bagi Prabowo untuk menyampaikan berbagai masukan dan saran kepada pemerintah tentang persoalan yang melanda bangsa ini, seperti persoalan kenaikan harga BBM dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya.

Riza juga mengatakan, pertemuan antara Prabowo dan Luhut ini sudah dilakukan beberapa kali dan adalah hal yang biasa. Pertemuan kali ini sudah direncanakan sejak lama. Namun, diakui Riza, pertemuan selalu tertunda karena kesibukan kedua tokoh tersebut.

Sebelumnya, Prabowo dan Luhut diam-diam bertemu di salah satu restoran di Jakarta pada Jumat (6/4) lalu.

Oleh: Fauziah Mursid [rol]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita