BPS: Peringatan, Perdagangan RI Defisit 3 Bulan Secara Beruntun

BPS: Peringatan, Perdagangan RI Defisit 3 Bulan Secara Beruntun

Gelora News
facebook twitter whatsapp

www.gelora.co - Neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit di Februari 2018. Pada bulan lalu, defisit neraca perdagangan tercatat sebesar USD 0,12 miliar atau sekitar Rp 1,6 triliun (kurs Rp 13.700).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, hal tersebut menjadi ketiga kalinya secara beruntun neraca perdagangan mengalami defisit. Sebelumnya pada Desember mengalami defisit USD 0,27 miliar dan Januari juga defisit USD 0,68 miliar.

Menurut dia, defisit dalam tiga bulan beruntun ini merupakan peringatan dan harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, pada Desember 2016 serta Januari dan Februari 2016, neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus masing-masing sebesar USD 990 juta, USD 1,4 miliar dan USD 1,2 miliar.

"Ini harus jadi perhatian karena tiga bulan berturut-turut neraca perdagangan kita defisit dari Desember 2017. Ini perlu jadi perhatian kita semua. ‎Tentu menjadi warning bagi kita," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (15/3).


Selain itu, lanjut dia, bila melihat data tahun-tahun sebelumnya, potensi defisit juga masih akan terjadi di tahun ini, khususnya saat perayaan hari raya keagamaan seperti Idul Fitri.

"Sebenarnya kalau berkiblat tahun lalu. Defisit kita terjadi pada bulan Juli dan Desember. Kalau Juli, itu sebenarnya karena Lebaran sehingga ada kenaikan impor barang konsumsi," kata dia.

Meski demikian, Suhariyanto berharap pada Maret 2018, neraca perdagangan akan mengalami surplus. Pada Maret tahun lalu, neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD 1,4 miliar.

‎"Saya berharap surplus. Tentunya kalau kita lihat Januari-Februari agak terkoreksi ke bawah tetapi kita masih lihat bulan Maret. Mudah-mudahan Maret surplusnya masih bisa mengkompensasi," ungkap dia.

Selain itu, jika defisit ini terus dibiarkan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, pemerintah harus terus mendorong pertumbuhan ekspor, terutama dengan membuka pasar-pasar baru di negara non-tradisional.

"Kalau bicara share dari ekspor ke pertumbuhan ekonomi sekitar 21%, impor sekitar 19,5-20%. Jadi yang paling penting untuk memacu ke sana karena ekspornya pengaruh pendorong dan impornya faktor pengurang jadi minus. Harusnya yang paling bagus ekspor tinggi dan surplus tinggi. Itu baru akan berpengaruh besar kepada pertumbuhan ekonomi," tambahnya. [kmp]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita